Langsung ke konten utama

[Oneshoot] Aku Mencintaimu, Tapi Dulu

Title : AKU MENCINTAIMU, TAPI DULU
Author : TaLyTa
Genre : Find by yourself
Length : Oneshoot - Shortstory
Enjoy it!

Sore itu, hujan tampak turun satu-satu, membasahi tembok kaca cafe ini. Aku menyesap pelan capuccino-ku sambil sesekali memandangi titik-titik air di tembok. 
Sekilas, aku melirik jam dinding di sudut cafe. Ouh, sudah dua pulh menit. Kemana dia? Bukankah dia yang mengajakku bertemu, menagapa dia sendiri yang terlambat? Aku mendengus. Dalam hati, aku berkata, bila sepuluh menit lagi ia tak datang, aku akan pergi.

“CKLING”terdengar bunyi lonceng di pintu cafe yang lucu, tanda ada seseorang yang memasuki cafe ini.

“Lyana... Maaf, aku terlambat...”ujarnya dengn rambut basah, ternyata dia.
“Oh, tak apa. Duduklah.”jawabku.


Ia mengusap lengannya yang basah. Aku merogoh tas tangan putihku dan menyodorkan saput tangan bertuliskan namaku. Ia memandangku heran, namun aku mengusapkan sapu tanganku di lengannya.

“Pakai ini. Kamu mau apa? Biar aku pesankan.”ucapku.

“Oh, terima kasih, Ly... Mountain coffee, boleh...”jawabnya.

“Mbak...”aku memanggil seorang waittres.

Waitress itu segera menghampiriku. Aku menyebutkan pesanannya. Setelah waitress itu meninggalkan kami, ia mengembalikan sapu tanganku yang sudah basah kuyup. Aku menerimanya sambil membalas ucapan terima kasihnya.

“Aku merindukanmu, Ly...”ucapnya tiba-tiba saat aku menyesap capuccinoku.

Aku meletakkan mug-ku dan menatapnya heran. “Apa?”tanyaku padanya.

“Aku merindukanmu, ly. Sejak hari di mana aku resmi dengan Fira, kita tidak seperti dulu lagi. Kamu terkesan menghindari aku.”jawabnya dengan kalimat yang lebih panjang.

“Oya? Aku hanya sedang sibuk, Nji... Maaf kalau kam merasa seperti itu...”ujarku, ada kebohongan di sana.

“Aku udah gak sama Fira lagi, Ly. Dia mengkhianatiku. Aku memergokinya berciuman dengan laki-laki lain. Rasanya menyakitkan, Ly...”Ia mulai bercerita.

“Aku ikut sedih, Nji.” “Tapi, aku merasa bersyukur dengan kejadian itu. karena aku bia tau kebusukan cewek itu, dan bisa menyadari satu hal.”lanjutnya.

“Apa itu?”tanyaku.

“Hatiku bukan milik Fira, Ly. Tapi, milikmu... Aku sadar, aku mencintaimu, Ly...”jawabnya yang membuatku hampir tersedak.

“Apa? Maksudmu...” “Aku mencintaimu, Ly... Saat hari pertama aku resmi dengan Fira, aku merasa ada yang salah. Dan, saat aku mendapat kabar kamu pindah ke luar kota, aku merasa kehilangan. Aku menyimpulkan dan memastikan, aku emncintaimu, Ly. Lyana. Marlyana.”jawabnya.

Aku terdiam karena keterkejutanku. Jantungku berdegup kencang. Aku bingung harus bagaimana. Lalu, tiba-tiba tangannya menyentuh punggung tanganku. Karena terkejut, aku melepas tanganku dengan cepat.

“Aku minta maaf, Ly... Seandainya, aku peka terhadap perasaanmu, mungkin kamu sudah bersamaku...”katanya.

“Aku? Aku tidak mencintaimu, Nji...”jawabku.

“Jangan mengelak. Kak Marco yang mengatakannya padaku di hari keberangkatanmu dulu. Aku sungguh menyesal, Ly... Tapi sekarang, aku tidak akan melepaskanmu lagi...”ujarnya.

Aku menatap manik matanya, mencoba mencari sinar kebohongan di sana. Tapi nihil. Aku rasa, dia jujur dengan kata-katanya itu. Dan, aku lihat, dia sangat yakin. Tiba-tiba, ponselku berdering, tanda ada panggilan masuk.

“Ajun... Iya, aku masih di cafe... Mau menjemputku? Memang sudah tidak ada kuliah? Oh, baiklah... Yah, aku tunggu ya... Hati-hati...”Aku berbicara di sambungan teleponku.

Setelah terputus, aku memasukkan ponselku ke dalam tas. Aku kembali menghadap padanya. Dia tampak tertunduk sambil mengaduk mountain coffee-nya. Aku memanggil namanya.

“Nji... Maaf... Aku berterima kasih karena kamu sudah mencintaiku dan tak ingin melepasku. Tapi, aku ingin kau melepasku... Aku tidak bisa membalas cintamu...”ucapku.

“Tapi, kenapa? Bukankah kamu mencintaiku juga?”tanyanya.

Aku tersenyum. “Barusan yang menelponku Ajun. Dia kekasihku, sebentar lagi kami akan mengadakan pertunangan. Aku memang mencintaimu, Nji, tapi itu dulu. Sekarang, aku mencintai Ajun. Maaf, Nji...”jelasku.

Aku melihatnya mendesah. Mug mountain coffee-nya ia letakkan di meja. Ia menyandarkan bahunya di kursi lalu memandangi titik-titik air yang tersisa di tembok kaca cafe. Aku tau ia kecewa, tapi aku juga tak mungkin membohonginya. Aku mencondongkan tubuhku padanya dan meraih tangannya.

“Kamu masih di hatiku, Nji. Hanya saja. Tapi, sebagai masa laluku. Saat ini, aku hanya menganggapmu sahabatku... Maafkan aku, Nji...”kataku.

“Seandainya, aku tak terlambat...” “Jangan menyalahkan masa lalu, mungkin aku memang bukan jodohmu. Tapi, tenanglah. Pasti ada gadis lain yang lebih dariku yang akan menjadi jodogmu.”potongku, tepat saat itu ponselku kembali berdering, kali ini tanda pesan masuk.

“Sweetheart, aku sudah di depan cafe. Cepat keluar, di sini hujan. Kau tau kan, aku tidak suka hujan sepertimu?”demikian isi pesan itu. Aku pun mendongak padanya.

“Panji, Ajun sudah menungguku di depan. Aku harus pergi...”pamitku sambil mengeluarkan uang lima puluhan untuk membayar capuccinoku.

Aku bangkit dan mulai melangkah menuju pintu keluar. Tapi, langkahku terhenti saat ada tangan yang menahanku. Tangannya. Aku menoleh padanya dan menunggunya berbicara.

“Kalau aku tidak bisa menjadi kekasihmu, apakah aku bisa menjadi sahabatmu, Ly?”tanyanya.

Sebuah senyuman terpatri di wajahku. “Bukankah dari dulu, kamu adalah sahabatku? Kita akan terus bersahabat, Nji, sampai kapanpun. Sudah ya, aku sudah ditunggu. Sampai jumpa.”ujarku.

Aku meninggalkannya yang tampak tersenyum. Aku menghampiri Ajun yang sudah menungguku di atas motor merahnya. Setelah meladeni omelan Ajun yang tidak menyukai hujan, seperti yang dibilangnya di pesan singkat tadi, kami pun menerobos jalanan gelas kota Surabaya, kembali ke rumah.


END

Postingan populer dari blog ini

[DRABBLE] : DON’T SICK AGAIN, YO… Pagi itu, saat upacara bendera, aku melihatnya yang tiba-tiba berlari. Semua mata menatap dirinya yang memucat. Ya ampun, dia kenapa? Aku pun memutuskan untuk mengikutinya. Dan ternyata, dia berlari ke arah toilet. Toilet cowok.
Sesampai di toilet, aku bias mendengar suara orang muntah, yang kuyakini adalah dirinya. Sesekali terdengar batuk yang keras dan rintihan menahan rasa sakit. Aku harus masuk dan melihatnya. Aku sudah tidak peduli dengan status tempat ini yang bernama ‘toilet cowok’.

[Cerpen] Biakan Aku Pergi

Biakan Aku Pergi
#Ini pengganti yang ‘The Last Valentine’. Kenapa aku ganti? Karna feel cerita yang judulnya itu udah ga ada lagi. udah memudar *cielah bahasa gue—a* Ini aku pake CakShil kok, tenang, masih menuhin request’an Kakak Nia Sumiati tercintah *eh! Dan masih sesuai request’an kok. So, mending lanjut aja yaa... Happy reading, don’t forget to comment and give your thumbs, right!#
“Aku mau kita putus.”ucap Cakka pada Shilla.
“Putus? Kenapa?”tanya Shilla sambil menatap Cakka dalam, berusaha mencari kebohongan di manik mata Cakka, tapi nihil.
“Aku udah ga nyaman sama kamu.”jawab Cakka.
“Gitu?” “Iya.”jawab Cakka –lagi-
“Oke, kita putus.”ujar Shilla lalu beranjak dari kursinya, berniat pergi dari cafe.
Cakka mengusap wajahnya saat punggung Shilla mulai menghilang dari pandangannya. Dadanya terasa terhimpit saat mengatakan kata ‘putus’ tadi. Jujur saja, semuanya yang ia ucapkan tadi adalah bohong belaka. Cakka masih sangat menyayangi Shilla, dan masih nyaman di sebelah Shilla. Tapi C…