Langsung ke konten utama

Don't Blame Me... Please

Jangan salahin aku, Ma
Jangan salahin aku kalo aku lebih sayang sama Mami daripada sama Mama
Jangan salahin aku kalo aku lebih milih bersama mereka ketimbang di sini sama kalian
Jangan salahin aku
Aku gak pernah mau Mama kasih aku ke Pakkung dan dirawat sama mereka dan akhirnya sayang sama nereka
Aku gak pernah mau kayak gitu Ma
Aku gak pernah minta
Bahkan untuk tau apa yang kumakan aja aku gak tau saat itu
Apalagi aku tau untuk milih ikut Mama atau dirawat Pakkung
Kalo aku bisa memutuskan, aku akan ikut Mama
Sesusah apapun, pasti lebih baik ikut Mama sendiri
Andai aku bisa muter waktu dan aku bisa milih itu, Ma

Untuk masalah kenapa aku milih untuk akhirnya nurut sama Mami yang nyuruh aku kuliah di Banyuwangi, ninggalin kota Surabaya yang sehebat itu. Itu semua karena aku gak mau bikin Mama susah. Aku gak mau bebano ke Mama. Mama masih ada Jevon yang mesti dibiayai sampai lulus SMA...

Tolong Ma, jangan salahin aku
Aku udah cukup menyesali keputusanku ini
Keputusan untuk tinggal di Banyuwangi, dan mengalami hal-hal yang gak enak di Banyuwangi
Tolong...

Postingan populer dari blog ini

[DRABBLE] : DON’T SICK AGAIN, YO… Pagi itu, saat upacara bendera, aku melihatnya yang tiba-tiba berlari. Semua mata menatap dirinya yang memucat. Ya ampun, dia kenapa? Aku pun memutuskan untuk mengikutinya. Dan ternyata, dia berlari ke arah toilet. Toilet cowok.
Sesampai di toilet, aku bias mendengar suara orang muntah, yang kuyakini adalah dirinya. Sesekali terdengar batuk yang keras dan rintihan menahan rasa sakit. Aku harus masuk dan melihatnya. Aku sudah tidak peduli dengan status tempat ini yang bernama ‘toilet cowok’.

[Cerpen] Biakan Aku Pergi

Biakan Aku Pergi
#Ini pengganti yang ‘The Last Valentine’. Kenapa aku ganti? Karna feel cerita yang judulnya itu udah ga ada lagi. udah memudar *cielah bahasa gue—a* Ini aku pake CakShil kok, tenang, masih menuhin request’an Kakak Nia Sumiati tercintah *eh! Dan masih sesuai request’an kok. So, mending lanjut aja yaa... Happy reading, don’t forget to comment and give your thumbs, right!#
“Aku mau kita putus.”ucap Cakka pada Shilla.
“Putus? Kenapa?”tanya Shilla sambil menatap Cakka dalam, berusaha mencari kebohongan di manik mata Cakka, tapi nihil.
“Aku udah ga nyaman sama kamu.”jawab Cakka.
“Gitu?” “Iya.”jawab Cakka –lagi-
“Oke, kita putus.”ujar Shilla lalu beranjak dari kursinya, berniat pergi dari cafe.
Cakka mengusap wajahnya saat punggung Shilla mulai menghilang dari pandangannya. Dadanya terasa terhimpit saat mengatakan kata ‘putus’ tadi. Jujur saja, semuanya yang ia ucapkan tadi adalah bohong belaka. Cakka masih sangat menyayangi Shilla, dan masih nyaman di sebelah Shilla. Tapi C…