Langsung ke konten utama

Aku Selalu Sayang Kamu *Cerpen*

*Karena aku les jam setengah tujuh, jadi aku post sekarang aja ya, cerpennya… Ini aku nulis ekspres, selesai dalam waktu satu jam pas pelajaran Bahasa Indonesia. Jadi, maaf kalo jelek+gaje+ga nyambung, dan sebagainya. So, ini ceritaku, apa ceritamu? (?)

I

H
O
P
E

U

L
I
K
E

T
H
I
S
J

Empat bulan sudah Via putus dari Alvin. Kini, ia sudah memiliki seorang kekasih baru bernama Rio. Namun, tanpa disangka, Alvin mengajak Via untuk kembali. Via kaget, marah, bercampur senang dan bingung. Yah, Via memang masih menyayangi Alvin, tapi ia sudah memiliki Rio.
:Via, aku mohon, kembali sama aku, aku sayang banget sama kamu…”ucap Alvin.
“PLAKK!!” Via menampar Alvin.

“Lo nggak bisa seenaknya gini, Vin. Gue milik Rio sekarang. Lo juga nggak berhak keluar masuk kehidupan gue dan ngehancurin gue sekali lagi! Belum puas lo, Hah?”bentak Via.
“Tapi Vi…” “STOP, Vin! Gue nggak mau denger apa-apa lagi. Sorry, Rio udah jemput gue.”potong Via lalu berbalik.
Namun saat sudah jauh, Via berbalik melihat Alvin #ruwet deh –“# Via terkaget melihat cairan merah mengalir perlahan dari lubang hidung Alvin. Sedetik kemudian, Alvin terjatuh, ambruk. Via berlari menuju Alvin, dan memangku kepala Alvin. Via menepuk pipi Alvin, berharap Alvin sadar #sekalian aja dipukul pake palu(yg kayak di tom&jerry tuh lho) ._.v# Via berteriak mencari pertolongan.
“Via… Ini… Ini… Alvin kan?”tanya Rio, ia langsung menuju ke sini saat mendengar teriakan Via.
“Iya, Yo… Bantuin aku bawa dia ke RS. Dia pingsan Yo, darahnya juga nggak brenti-brenti. Aku takut dia kenapa-napa…”jawab Via sekaligus meminta.
“Kamu masih sayang sama Alvin?” “Hah? Kamu ngomong apa sih? Ayo, cepetaaaan…”jawab Via lagi.
Rio menurut. Ia memapah tubuh Alvin ke mobil dan menginjak pedal gas dalam-dalam. Tak lama, mereka sampai di Rumah Sakit. Alvin segera dibawa ke ruang UGD. Via mondar-mandir menunggu kabar dari dokter. Hatinya takut. Sedang Rio, dia hanya diam terduduk, sambil memikirkan berbagai kemungkinan.
Tak lama, dokter keluar. Via cepat-cepat menghampiri dokter itu. Rio memilih untuk membiarkan Via. Dia hanya ingin menenangkan pikirannya dari segala kemungkinan yang ia pikirkan tadi #makanya, io, jgn berspekulasi toh…#
“Dok, Alvin kenapa?”tanya Via.
“Kondisi Alvin memburuk, seharusnya ia tidak berada di luar Rumah Sakit lebih dari liam jam, itu buruk bagi…” “Intinya, Alvin kenapa, Dok?”potong Via nggak sabar.
“Alvin…” “Biar Alvin yang jelasin, Om...”ucapan dokter itu kembali terpotong, kali ini oleh Alvin dengan suara lemas dan tangan yang memegang tembok, berniat menopan tubuhnya.
“Alvin, kamu harus istirahat…”perintah dokter yg ternyata Om Alvin, Om Duta.
“Nggak Om, Alvin harus jelaskan semuanya ke Via, sebelum terlambat.”bantah Alvin.
Alvin melepas tangannya dari tembok. Ah, hamper jatuh, kalau saja rio tidak sigap menangkap#emang apaan ya, menangkap?# tubuh Alvin, mungkin Alvin akan tersungkur. Alvin tersenyum, senyuman terima kasih. Lalu Alvin berbisik sesuatu pada Rio.
Melihat Rio yang mengangguk setuju, Alvin kembali tersenyum. Kali ini lebih tulus. Alvin berbalik dan menuju Via. Alvin mengajak Via untuk ke taman. Via tak kuasa menolak, apalagi kondisi Alvin begitu lemah.
“Vin…” “Vi…” ucap mereka berbarengan #cieeeeh…kompak#
“Kamu dulu Vi…”suruh Alvin.
“Kita nggak seharusnya berda, harus ada Rio di sini…”kata Via.
“Sivia, biarin kita berdua di sini. Aku pengen ngobrol sebentar sama kamu, jelasin semuanya ke kamu… Please…”pinta Alvin. Kini Via hanya mengangguk. Entah mengapa, ia selalu tak bisa menolak jika Alvin mengucapkan ‘please’.
“Ya udah. Ayo… Kamu harus cepet balik ke kamar”balas Via.
“Vi, aku… aku… kanker… kanker darah… stadium, akhir…”ucap Alvin pelan, pelan sekali, namun Via dapat mendengarnya.
“APA Vin? Kamu serius?”Via tak percaya.
“Iya, Vi, dan hidup aku… hidup aku hanya sebentar. Itulah kenapa aku memutuskan hubungan kita, bukan karena ada cewek lain. Aku nggak mau kamu sedih waktu aku pergi, Vi…”jawab Alvin.
“Alvin… aku mau Vin, kembali sama kamu… aku masih sayang, sayang banget, sama kamu…”kata Via tiba-tiba.
“Nggak Via… Jangan…”tolak Alvin.
“Tapi kenapa? Bukannya kamu mau itu?”tanya Via.
“Aku nggak sempurna, Vi. Kamu udah punya Rio yang sehat… Dan hidupku hanya sebentar Vi…”jawab Alvin.
“Kamu jangan ngomong gitu…” “Itu kenyataan Vi, dan aku capek dengan semua ini…”kata Alvin.
“Alvin…” “Via…” #jiaaah. Kompak lagi =.=’#
“Iya, Vin?”tanya Via.
“Aku ngangtuk, Vi…” “Kita kembali ke kamar ya?”ajak Via.
“Nggak Vi, aku mau di sini. Biarin aku tidur di bahumu ya.. Aku udah lama nggak ngrasain nyamannya tidur di bahumu…”pinta Alvin.
“Boleh…”
Alvin meletakkan kepalanya di bahu Via. Kepalanya terasa sakit. Perlahan, cairan merah embali mengalir. Bapa, aku siap, batin Alvin dalam hati. Alvin menutup kepalanya dan menghela napas kencang. Dia pergi, dia telah pergi.
Via merasa bahunya makin berat. Ia menoleh dan terkejut melihat Alvin begitu pucat. Via memegang tubuh Alvin. Dingin. Dan saat Via ingin mengangkat kepala Alvin, tiba-tiba tubuh Alvin jatuh. Via terpekik, dan seketika itu ia sadar, cowok di sampingnya telah tiada.
Rio muncul dari tempatnya bersembunyi. ia memeluk Via. Tanpa mereka sadari, seberkas pelangi muncul di langit. Semua orang terpana melihatnya. Bagaimana tidak? Muncul pelangi pada hari cerah, sungguh jarang. Namun, Rio dan Via tau, itu dari Alvin.
“Aku sayang kamu, Vin, selalu sayang kamu…”ucap Via, lirih.


T A M A T

*gimana gimana gimana??? Jelek toh??? Pendek toh??? Gaje toh??? Banget deh… Maklumlah, penulis bikinnya ekspres dan suasana hati lagi galau, sekarang aja masih galau… jangan lupa L n C nya. Thanks before. Dan, NGGAK ADA SISTEM TAG.*

Postingan populer dari blog ini

[DRABBLE] : DON’T SICK AGAIN, YO… Pagi itu, saat upacara bendera, aku melihatnya yang tiba-tiba berlari. Semua mata menatap dirinya yang memucat. Ya ampun, dia kenapa? Aku pun memutuskan untuk mengikutinya. Dan ternyata, dia berlari ke arah toilet. Toilet cowok.
Sesampai di toilet, aku bias mendengar suara orang muntah, yang kuyakini adalah dirinya. Sesekali terdengar batuk yang keras dan rintihan menahan rasa sakit. Aku harus masuk dan melihatnya. Aku sudah tidak peduli dengan status tempat ini yang bernama ‘toilet cowok’.

[Cerpen] Biakan Aku Pergi

Biakan Aku Pergi
#Ini pengganti yang ‘The Last Valentine’. Kenapa aku ganti? Karna feel cerita yang judulnya itu udah ga ada lagi. udah memudar *cielah bahasa gue—a* Ini aku pake CakShil kok, tenang, masih menuhin request’an Kakak Nia Sumiati tercintah *eh! Dan masih sesuai request’an kok. So, mending lanjut aja yaa... Happy reading, don’t forget to comment and give your thumbs, right!#
“Aku mau kita putus.”ucap Cakka pada Shilla.
“Putus? Kenapa?”tanya Shilla sambil menatap Cakka dalam, berusaha mencari kebohongan di manik mata Cakka, tapi nihil.
“Aku udah ga nyaman sama kamu.”jawab Cakka.
“Gitu?” “Iya.”jawab Cakka –lagi-
“Oke, kita putus.”ujar Shilla lalu beranjak dari kursinya, berniat pergi dari cafe.
Cakka mengusap wajahnya saat punggung Shilla mulai menghilang dari pandangannya. Dadanya terasa terhimpit saat mengatakan kata ‘putus’ tadi. Jujur saja, semuanya yang ia ucapkan tadi adalah bohong belaka. Cakka masih sangat menyayangi Shilla, dan masih nyaman di sebelah Shilla. Tapi C…