Langsung ke konten utama

Bila Aku

*New Story with Alvia’s couple. Cuma, pemerannya bukan Alvin Jonathan sama Sivia Azizah, hanya namanya yang mirip. Tapi ntar ujungnya Alvia kok… so, daripada banyak ngemeng, mending langsung yukkk….
CAPCUUUUSSS
I

H
O
P
E

U

L
I
K
E

T
H
I
S


Hay, aku Selviana. aku sedang di taman sekolahku, menangis. Ya, karena hanya di sini aku bisa mencurahkan isi hatiku dengan menangis. Jangan tanya kenapa aku menangis. Karena aku nggak mampu menceritakannya. Hatiku perih saat mengatakannya.
Dia, kekasihku, cowok yang aku banggakan, telah menyakitiku. Nggak tanggung-tanggung, dia selingkuh di depanku dengan anak baru pindahan dari Paris. Dia selalu memamerkan kemesraannya di hadapanku. Padahal statusnya, masih pacarku. Ya, dia belum mengatakan PUTUS untukku. Mungkin bila dia sudah mengatakannya, aku nggak akan sesakit ini.
Tapi walau begitu, Alvino, itulah namanya, masih memberi perhatiannya buatku. Walau nggak seperti dulu. Ia masih sempat mengantarku pulang. Hari ini dia janji akan mengantarku pulang. Maka dari itu aku menunggunya di gerbang sekolah.
“Vi, lo nggak pulang?”tanya Donita, sahabatku.
“Bentar lagi gue pulang. Gue lagi nungguin Alvin.”jawabku.
“Oh… Ya udah, gue balik dulu ya, mau bikin brownies sama nyokap. Besok gue bawain buat lo…”balas Donita sambil berlalu pergi.

“Sip.”aku mengangkat jempol kananku.
Aku tersenyum melihat sahabatku yang sedikit tomboy itu berlari menuju mobil jemputannya. Dia memang nggak bisa bawa mobil sendiri, tepatnya, nggak boleh bawa. Setelah memastikan Donita telah menghilang dari halaman sekolah, aku memilih menunggu Alvin, panggilan akrab Alvino, di pos satpam.
Tiga puluh menit, sudah tiga puluh menit aku nungguin dia. Pak satpam sudah tertidur di posnya. Tapi mana Alvin? Dia nggak muncul-muncul. Apa dia lupa dengan janjinya? Aku mulai terisak, sedih banget, Alvin sudah mulai ingkar padaku, meskipun sebenarnya ini bukan pertama kalinya, tapi biasanya dia ngomong sama aku kalo nggak bisa nepatin janjinya.
“Bila aku… Tlah tiada.. Mengertilah…”Dering HPku berbunyi. Aku merogoh saku seragamku. Tertera nama “Dewaku” di layer. Alvin. Aku hamper bersorak melihatnya. Akhirnya dia memberiku kabar.
“Hallo, Via…”sapanya lembut.
“kamu di mana, Vin? Aku udah nungguin kamu daritadi…”tanyaku.
“Maaf Vi, aku baru inget kalo ada rapat OSIS. Dan aku baru sempet ngehubungi kamu. Maaf banget ya… Kamu pulang duluan aja deh, nanti sore aku ke rumahmu…”jawab Alvin cepat. Sepertinya dia bener-bener sibuk. Ya, Alvin adalah Ketos sekolah, jelas saja dia sibuk.
“Oh, ya udah, nggak papa kok Vin kalo kamu sibuk. Kalo kamu masih sibuk, nggak usah ke rumahku dulu deh… Nggak papa kok…”balasku getir, menahan tangis.
“Kamu nangis Vi? Ya Tuhan, Vi, jangan nangis ya… nanti sore aku beneran ke rumahmu, aku nggak sibuk kok…”
“Aku nggak nangis kok. Ya udah, aku pulang dulu ya.”jawabku.
“Iya, hati-hati ya Vi…”balas Alvin.
Aku memutus sambungan telpon. Aku nggak kuat meneruskannya. Dia memang sudah berubah. Dulu, sewaktu aku terpaksa pulang sendiri dia pasti merayuku dulu, memanggilku dengan panggilan-panggilan manis, tapi sekarang, dia hanya mengatakan alasannya dan kembali berjanji padaku.

********

Author P.O.V

Via membanting pintu kamarnya. Hatinya perih. Sepulang sekolah dia melihat Alvin bermesraan dengan Brenda di ruang musik. Lebih parahnya, mereka berciuman. Saat melihat itu, Via menggumamkan nama Alvin dan Brenda, sehingga keduanya tersadar. Via berbalik meninggalkan ruang musik dengan aliran hangat di pipinya.

Flashback:
“Alvin… Brenda…”gumam Via.
Alvin dan Brenda menoleh. “Via…”desis Alvin.
Via berbalik dan berlari meninggalkan ruang musik. Alvin berusaha mengejar Via, namun ditahan oleh Brenda. Sejujurnya, Brenda telah menyukai Alvin dari pertama mereka bertemu.
Via terus berlari sambil menangis sampai akhirnya…
“BRUKKK!!” Via menabrak seseorang.
“Via, lo kenapa?”tanya Donita.
“Alvin, Nit… Alvin…”jawab Via terisak.
“Apa ini karena Alvin? Vi… Gue mau bilang sesuatu sama lo…”
“Jadi lo tau Nit? Jadi lo udah tau kalo Alvin dan Brenda pacaran? Kenapa lo nggak bilang ke gue?”cecar Via.
“Karena… Karena…”Donita jadi gelagapan karena dituduh tiba-tiba dan di belakang Via muncul Alvin.
“Kenapa? Gue BENCI sama lo Nit!”bentak Via lalu meninggalkan Donita.
 Via berlari keluar sekolah. Ia langsung masuk ke mobil jemputannya. Hatinya pedih. Sahabatnya tega membohonginya. Via menangis sepanjang perjalanan. Sesampai di rumah, ia langsung masuk ke kamar dan menangis lebih keras. Bunda Via sempat kaget melihat putrid tunggalnya pulang dai sekolah dengan keadaan acak-acakkan seperti itu.
 Flashback end

Dua bulan sudah Via tidak berkomunikasi dengan Alvin maupun Donita. Semua telpon dan sms dari keduanya tak pernah dia pedulikan. Bahkan sekarang, Via mengganti nomor ponselnya. Di sekolah, setiap berpapasan, Via membuang wajahnya, sehingga tak ada kesempatan untuk Alvin dan Donita untuk bicara dengan Via.
Seperti hari ini, Via lagi-lagi menghindar dari Alvin yang kebetulan berpapasan di koridor sekolah. Via ingin melengos dari Alvin, namun terlambat, Alvin lebih dulu memegang tangan Via. Via memberontak, namun sayang, genggaman Alvin lebih kuat.
“Vi, please… Dengerin aku ngomong, sekali aja.”mohon Alvin lembut.
“Sorry, gue nggak ada waktu.”jawab Via ketus.
“Vi, please…”pinta Alvin sekali lagi.
“Heh! Cewek nggak tau diri! Masih berani lo keganjenan sama Alvin?”terdengar suara mengejek di belakang Alvin, Brenda dengan wajah angkuhnya.
“Maksud lo apa?”tanya Via sinis.
“Muna lo! gue kasih tau ke lo ya, Lo itu nggak pantes buat Alvin. Lo nggak level sama dia. Alvin nggak level sama anak yatim macem lo”kata Brenda.
“Heh! Gue tau gue nggak sempurna, gue tau gue nggak level sama Alvin, tapi nggak perlu lo bawa-bawa status gue sebagai anak yatim. Lo piker lo sempurna? Lo bahkan lebih nggak bermoral! Ngerebut pacar orang dan sekarang ngelarang orang buat deket-deket cowok yang bukan cowok lo!”balas Via marah. Dan…
“PLAKKK!!” setetes darah mengalir di rahan Via, sebuah tamparan keras baru saja mengenai wajahnya. Tamparan dari seorang cowok yang sudah menyakiti Via, Alvin. Via memandang Alvin sinis sambil memegang pipinya. Dia tersenyum getir dan berlalu dari hadapan Alvin. Setelah itu, Via menangis tertahan menuju kelasnya.
Hari ini, Via mengikuti pelajaran dengan tidak konsentrasi. Berulang kali ia ditegur guru karena kebanyakan melamun. Pulang sekolahpun tiba, Via mengambil tas sekolahnya dan berlalu menuju taman favoritenya. Via mengambil i-phone-nya lalu memutar sebuah lagu yang menenangkan hatinya.
Tiba-tiba Via merasa ada yang duduk di sebelahnya. Via menoleh. Alvin, gumam Via dalam hatinya. Setelah melihat Alvin sekilas, Via membereskan barang-barangnya, berniat pergi dari tempat itu. Tapi Alvin dengan cepat mencegah Via dan menyuruh Via duduk kembali.
“Maaf Vi, untuk yang tadi… Pasti sakit ya? Tapi aku yakin, pasti lebih sakit hati kamu… Maafin aku karena udah selingkuh di belakang kamu… Kamu mau kan maafin aku?”tanya Alvin, Via terdiam.
“Vi… Kalo kamu maafin aku, kamu peluk aku… Tapi kalo kamu memang udah ilfeel sama aku, kamu tinggalin aku di sini…”lanjut Alvin.
Via berjalan perlahan meninggalkan Alvin, namun sedetik kemudian, Via berbalik dan berjalan menuju Alvin. Ia memeluk Alvin. Alvin tersenyum. Perlahan terdengar suara Alvin emngucapkan ‘terima kasih’.
Alvin masih dalam posisi memelukVia, Via berusaha melepasnya, tapi sulit. Entah mengapa, pelukan Alvin sangat erat. Namun, Via merasa aneh. Tubuhnya terasa berat, perlahan Via menarik tubuh Alvin. Via terkaget melihat Alvin tidak sadarkan diri dengan wajah pucat.
“Alvin… bangun… Vin… Lo kenapa?”Via sadar kalo Alvin pingsan, dia mencari pertolongan untuk membawa Alvin ke rumah sakit.

******

Via mondar-madnir di depan ruang UGD. Lima menit kemudian, Mama dan Papa Alvin serta Donita berlari menuju Via. Via tak menyadari mereka. Sampai akhirnya Donita menepuk pundak Via. Via menoleh dan memeluk Donita. Dia masih shock Alvin pingsan tadi.
“Nit, Alvin kenapa?”tanya Via terisak.
“Lo yang sabar ya, Vi… Alvin…punya kelainan jantung sejak kecil. Dokter memperkirakan hidup Alvin hanya sampai umur enam belas tahun. Tapi Tuhan masih memberinya kesempatan sampai umurnya tujuh belas tahun saat ini. Tapi, kondisi jantungnya makin parah. Ia tak bisa melakukan hobinya lagi, main sepak bola. Dan juga, Alvin nggak mau lo tau akan hal ini. Dia nggak mau lo sedih.”jelas Donita. Via terdiam, dia sulit menerimanya.
“Lo tau alas an Alvin selingkuh sama Benda di hadpan lo?” Via menggeleng. “Dia pengen lo mutusin dia, karena dia nggak sanggup liat lo sedih kalo sewaktu-waktu waktunya tiba. Gue sendiri awalnya nggak mau merahasiakan ini dari lo, tapi ini semua keinginan Alvin… Gue nggak sanggup menolaknya…”lanjut Donita.
Via menangis mendengar semua penuturan Donita. Mama dan papa Alvin sedang berada di ruangan dokter. Via dan Donita memilih masuk melihat keadaan Alvin. Lagi-lagi Via menangis melihat laki-laki yang ia sayangi tergeletak lemah di ranjang dengan alat medis yang diharapkan dapat menopang hidup Alvin. Via menghampiri ranjang Alvin dan menggenggam tangan kanan Alvin.
“Vin… Kamu harus sembuh… Maafin aku, Vin…”ucap Via lirih.
Tangan Alvin bergerak kecil. Via terkaget namun sekaligus senang melihat itu. Ia menunggu Alvin tersadar.
“Maafin aku… Kamu udah tau semua kan? Maaf aku udah sembunyiin ini dari kamu… Kamu mau mafin aku kan?”kata Alvin lemah.
“Iya, Vin, aku maafin kamu. Tapi kamu harus sembuh ya… Aku mohon…”
“Aku udah nggak kuat, Vi… Aku capek…”jawab Alvin.
“Please, Vin, kamu sembuh…”pinta Via.
“Selviana…”panggil Alvin, suaranya semakin lemah.
“Iya, Vin?”jawab Via.
“Tolong peluk aku, aku mau istirahat…”pinta Alvin.

Bila aku
Tlah tiada
Mengertilah
Bila aku
Tlah tiada
Maafkanlah
>>Bila Aku-Marvells
Sayup-sayup terdengar Alvin bernyanyi.
Via memeluk tubuh Alvin dan membiarkannya menaruh kepalanya di pundak Via. Setelah lima menit, Via merasakan aneh, tubuhnya terasa berat dan tubuh Alvin dingin. Via melepas pelukaannya dan menangis seketika. Alvin telah tiada.
“ALVIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN”teriak Via terisak.
“Udah, Vi… biarin Alvin tenang di sana…”kata Donita menenangkan Via.
“Nggak, Nit, Alvin bercanda kok… Dia masih ada di sini… Vin, bangun…”jawab Via masih terisak.
“Udah Vi… Udah… Alvin nggak akan suka… Kita relain Alvin ya…”kata Donita.
Via melepas Alvin dan memeluk Donita. Dia menangis dipelukan Donita. Seberkas rasa menyesal muncul dalam hatinya. Kenapa aku nggak pernah mau peduli sama pacarku sendiri? Kenapa aku selalu egois?pertanyaan-pertanyaan itulah yang muncul di otaknya saat ini.

*******

@Pemakaman Alvin

Semua orang menangis melihat jenazah dimasukkan ke dalam peti dan dikubur dalam tanah. Alvin telah meninggalkan kesan terindah bagi orang yang mengenalinya. Namun diantara orang-orang itu, seorang gadis dengan pakaian serba hitam menangis lebih keras dari mereka. Kekasih Alvin, Via. Dia masih belum dapat menerima kepergian Alvin, namun dia bisa apa selain menangis.
“Via… Udah ya, jangan nangis… Sekarang kita pulanng, tenangin diri kamu…”ajak Bunda Via.
“Bunda, Via boleh di sini lebih lama? Bunda pulang saja dulu…”pinta dan jawab Via.
“Baiklah, tapi kamu janji ya, kamu pulang sebelum gelap. Bunda takut kamu kenapa-kenapa.”balas Bunda Via.
“Iya, Bunda…”jawab Via sekali lagi.
Bunda Via beranjak meninggalkan putrinya. Via kembali menangis. Namun setelah beberapa menit Bundanya pergi, Via memilih meninggalkan Alvin. Dia berjalan menuju taman yang biasa dia datangi. Via duduk di bangku terakhir dia duduk bersama Alvin.
Namun tiba-tiba…
“BRUKKK!!!”Via tertabrak seseorang. Orang itu menjulurkan tangannya dan membantu Via berdiri. Via mendongak dan mengucapkan terima kasih. Namun belum rampung kata itu, Via dibuat kaget terlebih dahulu.

“Alvin…”



THE END

*Endnya nggantung ya? Banget. Udah kehabisan ide nih buat endnya. Mungkin next day aku buat sekuelnya, tapi kalo sempet. So, akhir kata*cieileh,bahasa gue*, boleh dong penghargaannya. Satu aja kok, satu komen satu like. Tapi komennya jgn pendek2 ya, yang panjang. Ntar komen yg panjang bakalan aku tag di sekuelnya, kalo beneran dipost. Hehe. See You next story guys….*

Postingan populer dari blog ini

[DRABBLE] : DON’T SICK AGAIN, YO… Pagi itu, saat upacara bendera, aku melihatnya yang tiba-tiba berlari. Semua mata menatap dirinya yang memucat. Ya ampun, dia kenapa? Aku pun memutuskan untuk mengikutinya. Dan ternyata, dia berlari ke arah toilet. Toilet cowok.
Sesampai di toilet, aku bias mendengar suara orang muntah, yang kuyakini adalah dirinya. Sesekali terdengar batuk yang keras dan rintihan menahan rasa sakit. Aku harus masuk dan melihatnya. Aku sudah tidak peduli dengan status tempat ini yang bernama ‘toilet cowok’.

[Cerpen] Biakan Aku Pergi

Biakan Aku Pergi
#Ini pengganti yang ‘The Last Valentine’. Kenapa aku ganti? Karna feel cerita yang judulnya itu udah ga ada lagi. udah memudar *cielah bahasa gue—a* Ini aku pake CakShil kok, tenang, masih menuhin request’an Kakak Nia Sumiati tercintah *eh! Dan masih sesuai request’an kok. So, mending lanjut aja yaa... Happy reading, don’t forget to comment and give your thumbs, right!#
“Aku mau kita putus.”ucap Cakka pada Shilla.
“Putus? Kenapa?”tanya Shilla sambil menatap Cakka dalam, berusaha mencari kebohongan di manik mata Cakka, tapi nihil.
“Aku udah ga nyaman sama kamu.”jawab Cakka.
“Gitu?” “Iya.”jawab Cakka –lagi-
“Oke, kita putus.”ujar Shilla lalu beranjak dari kursinya, berniat pergi dari cafe.
Cakka mengusap wajahnya saat punggung Shilla mulai menghilang dari pandangannya. Dadanya terasa terhimpit saat mengatakan kata ‘putus’ tadi. Jujur saja, semuanya yang ia ucapkan tadi adalah bohong belaka. Cakka masih sangat menyayangi Shilla, dan masih nyaman di sebelah Shilla. Tapi C…