Langsung ke konten utama

Hujan, Mentari, Angin, Pelangi

Hujan, Mentari, Angin, Pelangi

Hujan Hujan datanglah
Tenangkanku yang tengah bergundah
Samarkan air mata yang mengalir deras di pipi
Buatlah daku kembali pancarkan senyum seperti sahabatmu, sang Mentari

Mentari Mentari bersinarlah
Cerahkanlah hati yang penuh ketakutan ini
Biaskan warna kuning cahayamu di relung hatiku
Buatlah daku dapat
menghembuskan sahabatmu, sang Angin

Angin Angin berhembuslah
Hilangkan gundah dan takutku
Hembuskan nafas bahagia di dalam hidupku
Agar aku dapat menari dan bernyanyi di bawah indah warna sahabatmu, sang Pelangi

Pelangi Pelangi berwarnalah
Jadikan hidupku kembali berwarna seperti dirimu
Jangan biarkan hitam putih kembali hadir di hidupku

Hay Hujan,
Hay Mentari,
Hay Angin,
Hay Pelangi
Ayo kemarilah
Hiburlah daku buat daku kembali ceria
Seperti kalian


 
Chiyo Hoshiko,
Lab Fisika
08-12-2011

Postingan populer dari blog ini

[DRABBLE] : DON’T SICK AGAIN, YO… Pagi itu, saat upacara bendera, aku melihatnya yang tiba-tiba berlari. Semua mata menatap dirinya yang memucat. Ya ampun, dia kenapa? Aku pun memutuskan untuk mengikutinya. Dan ternyata, dia berlari ke arah toilet. Toilet cowok.
Sesampai di toilet, aku bias mendengar suara orang muntah, yang kuyakini adalah dirinya. Sesekali terdengar batuk yang keras dan rintihan menahan rasa sakit. Aku harus masuk dan melihatnya. Aku sudah tidak peduli dengan status tempat ini yang bernama ‘toilet cowok’.

[Cerpen] Biakan Aku Pergi

Biakan Aku Pergi
#Ini pengganti yang ‘The Last Valentine’. Kenapa aku ganti? Karna feel cerita yang judulnya itu udah ga ada lagi. udah memudar *cielah bahasa gue—a* Ini aku pake CakShil kok, tenang, masih menuhin request’an Kakak Nia Sumiati tercintah *eh! Dan masih sesuai request’an kok. So, mending lanjut aja yaa... Happy reading, don’t forget to comment and give your thumbs, right!#
“Aku mau kita putus.”ucap Cakka pada Shilla.
“Putus? Kenapa?”tanya Shilla sambil menatap Cakka dalam, berusaha mencari kebohongan di manik mata Cakka, tapi nihil.
“Aku udah ga nyaman sama kamu.”jawab Cakka.
“Gitu?” “Iya.”jawab Cakka –lagi-
“Oke, kita putus.”ujar Shilla lalu beranjak dari kursinya, berniat pergi dari cafe.
Cakka mengusap wajahnya saat punggung Shilla mulai menghilang dari pandangannya. Dadanya terasa terhimpit saat mengatakan kata ‘putus’ tadi. Jujur saja, semuanya yang ia ucapkan tadi adalah bohong belaka. Cakka masih sangat menyayangi Shilla, dan masih nyaman di sebelah Shilla. Tapi C…