Langsung ke konten utama

Karena Hujan Menyayanginya…

*Hay, temen-temen, apa kabarnya semua? Lama ya, Tata nggak ngepost cerpen.. Ini Tata bawain cerpen. Tapi bukan cerpen bertokoh Icil, tokohnya random banget. Sebenernya ini mau Tata kirim buat satu lomba cerpen tapi karena nggak ngerti ‘biodata berbentuk narasi’ itu gimana, ya udah, Tata batalin aja. Tapi kalo ada yang mau ajarin Tata tentang itu boleh dong, siapa tau Dewi fortune lagi di Tata. So, silahkan langsung dibaca, kawan.*

Karena Hujan Menyayanginya…

Udara Surabaya hari ini cukup nyaman. Tak panas, tak juga dingin. Matahari sedang enggan tersenyum hari ini rupanya. Seorang gadis mungil tampak berjalan keluar menuju gerbang sekolahnya. Hari ini, hari terakhir sekolah. Besok sudah waktunya libur akhir tahun. Sasha, nama gadis itu, makin mempercepat langkahnya saat mengetahui langit hitam mulai berarak dengan lambatnya.
“Sasha…”panggil sebuah suara yang cukup Sasha. Sasha menoleh dan tersenyum ramah.
“Hay, Kra…” Balasnya masih dengan senyumannya.
“Aku punya sesuatu untuk penulis terbaikku ini.” Ucap sang pemilik suara yang merupakan kekasih hati Sasha yang bernama Cakra.
“Apa itu?” Tanya Sasha penasaran.

Cakra tampak membuka tasnya dan mengambil sebuah benda berbentuk persegi panjang. “TARAAA…” Cakra mengeluarkan sebuah buku mungil berwarna ungu muda dengan sebuah gambar kepala Hello Kitty di tepinya.
“Lucu sekali…” Puji Sasha dengan berbinar.
“Tulis semua yang ingin kau tulis di buku ini ya, Sha…” Ucap Cakra.
“Baik, akan aku usahakan. Thank you so much ya Cakra… Ehm, aku juga punya sesuatu buat kamu. Tunguu sebentar.” Jawab Sasha.
Kali ini, Sasha yang tampak membuka tasnya dan mengambil sebuah benda yang sama-sama berbentuk persegi panjang. Namun kali ini berbeda, benda tersebut berwujud sebuah kotak, tidak seperti yang diambil oleh Cakra tadi. Cakra tampak penasaran, lebih penasaran dari Sasha tadi.
“Apa sih itu, Sha?” Tanya Cakra.
“Buka deh…” Cakra membuka kotak itu dan tampak menganga. Bagaimana tidak, Sasha memberikannya sebuah miniature gitar yang sungguh cantik dan sebuah foto yang sudah diedit sehingga bagus, fotonya dengan Sasha.
“Thanks banget ya, Kecil…” Ucap Cakra tulus. Sasha membalasnya dengan senyum.
“Pulang?” Tanya Cakra.
“Um…” Sasha tampak berpikir, lantaran air-air bening sudah menetes dari atas. “Ah, kelamaan kalo mikir dulu. Ayo…” Cakra menarik Sasha ke tengah hujan.
“Cakra…!!!”Sasha berteriak kaget saat tetes air itu mengenainya.
Cakra tertawa renyah melihat kekasihnya yang tampak menggerutu. Pantas saja, Sasha menggerutu, karena buku yang ia beri belum juga dimasukkan ke dalam tas. Akibatnya, buku itu terkena hujan. Sasha memukuli lengan Cakra dengan sebal. Cakra berlari menghindari Sasha dengan masih tertawa.
Sasha terus mengejar Cakra, sampai-sampai ia tidak mengetahui bahwa wajah Cakra berangsur-angsur menjadi pucat. Sangat pucat. Tuhan, please, jangan untuk sekarang, ucap Cakra di dalam hati, memanjatkan doa untuk sang Tuhan. Namun ternyata….
“BRUKK!” Cakra tergeletak dengan lemas di tengah rintik hujan. Sasha segera mempercepat kakinya. Dalam hati Sasha tampak kebingungan. Karena baru kali ini, Cakra bias pingsan di tengah hujan.
“Cakra bangun, Cak.. Jangan bercanda deh… Cakra…” Ucap sasha dengan sedikit parau, akan menangis.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sasha menutup matanya sambil terus menggenggam tangan Cakra yang berada di sampingnya, terbaring dengan lemahnya. Yah, semenjak hari itu, Cakra belum juga tersadar. Artinya sudah hampir seminggu. Sasha merasakan aliran air di kedua pipi chubbynya. Air mata yang kesekian karena tidak tega melihat kekasihnya seperti ini.
“Cakra, sebentar lagi hujan lho, main hujan yuk…” Ucap Sasha miris.
Cakra masih terdiam dalam tidurnya. “Kamu mimpi apa sih, kok tidurnya lama banget? Aku kangen banget sama kamu. Kalo kamu bangun nanti, aku akan mulai ngisi buku ungu itu.. Please, bangun, Cakra…” Pinta Sasha, untuk kesekian kalinya.
Sasha membenamkan kepalanya, tampak ia sungguh frustasi menunggu sang kekasih terbangun. Sesaat kemudian, Sasha merasakan tangan yang ia genggam sedikit bergerak. Sasha langsung mendongak. Ada secercah harapan yang ia panjatkan, berharap ini pertanda sang kekasih akan terbangun. Dan benar, secara perlahan namun pasti, Cakra mulai membuka kedua matanya. Sasha tersenyum hangat menyambut sang kekasih.
“Sasha…” Panggil Cakra dengan lemahnya.
“Iya, Kra… Kenapa? Ada yang sakit?” Tanya Sasha.
“Aku…mau keluar… Sebentar lagi hujan kan?”balas Cakra.
“Tapi, Kra…” “Aku mohon, Sha…” Paksa Cakra.
Sasha tau, sia-sia menolak permintaan Cakra apalagi ia sangat tau cakra benar-benar mencintai hujan, ia tak kan mau melewatkan hujan sedetikpun. Dengan sedikit berat hati, Sasha membantu cakra duduk di kursi roda yang baru diambilnya.
Dengan perlahan, Sasha mendorong kursi roda itu menuju taman rumah sakit, sesuai permintaan Cakra. Mengetahui Sasha mendorongnya dengan sangat lamban, Cakra memprotes dengan alasan ingin cepat-cepat bermain dengan hujan.
“Kenapa sih setiap kamu main hujan, kamu nggak pernah sakit?” Tanya Sasha, memecah keheningan di antara mereka.
“Karena hujan menyayangiku, Sha…” Jawab Cakra, suaranya masih lemah.
“Kenapa hujan menyayangimu?” Tanya Sasha lagi, ia dibuat penasaran oleh Cakra.
“Karena aku menyayanginya juga, tidak sepertimu yang membenci hujan karena menurutmu hujan itu menyebalkan…” Jawab Cakra tersenyum.
“Hujan memang menyebalkan. Dia selalu datang di saat yang tidak tepat.” Balas sasha sekaligus memprotes.
“Tuh kan… Kalo kamu rasakan dengan baik, kamu tidak akan mengatakan hujan menyebalkan, Sha…” Ucap Cakra, tiba-tiba ia merasa ada cairan mengalir di hidungnya.
“Cakra, kamu mimisan, masuk yuk.. Kan masih bisa melihat hujan di dalam…” kata Sasha dengan nada cemas lalu berniat mendorong Cakra masuk ke rumah sakit.
“Nggak, aku mau di sini. Aku akan baik-baik saja, Sha.” Tolak cakra.
“Tapi, Kra…” Lagi-lagi Sasha berniat membantah Cakra.
“Please, Sha, biarin aku bermain sebentar dengan sahabatku, untuk yang terakhir…” Potong Cakra.
“Um… Baiklah…” Sasha pun kembali mengalah.
“Sha…” Panggil cakra, suaranya kian melemah.
“Iya, Kra?” “Boleh kamu memeluk aku? Aku kangen pelukan kamu, Sha…” Kata Cakra.
Tanpa menjawab, Sasha menyamakan tingginya dengan Cakra dan memluk Cakra dengan hangat. Sasha merasakan hujan semakin membasahi dirinya dan Cakra. Cakra tersenyum sejenak.
“Biarkan aku pergi bersama sahabatku, Sha…” Cakra menggerakkan bibirnya, namun tak bersuara, lalu ia menutup matanya. Ia pergi.
Sasha merasa pundaknya semakin berat. Ia mengangkat kepala Cakra, dan ia tersentak melihat bibir Cakra yang sangat pucat. Sasha memanggil Cakra dengan ketakutan. Tanpa basa-basi lagi, Sasha mendorong Cakra masuk ke dalam dan membawanya ke kamar, lalu memanggil dokter.
“Maaf, mbak… Cakra sudah tenang di sana…” Ucap sang dokter.
“APA? Nggak, dokter pasti bohong.” Sasha mencoba menyangkal.
“Maaf, mbak…” Jawab dokter.
Sasha menutup bibirnya dengan kedua tangannya, tak percaya. Sasha memeluk tubuh dingin Cakra. Mama dan Papa Cakra yang baru dating hanya bias menangis melihat putra bungsunya telah tiada. Perlahan, Mama Cakra mendekati Sasha dan memeluk gadis mungil itu.
“Relain ya Sha… Relain Cakra…” Ucap Mama Cakra. Sasha mengangguk dan menjauh dari tubuh Cakra, membiarkan suster-suster di sampingnya menutup tubuh Cakra dengan kain putih.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Upacara pemakaman Cakra sudah selesai. Sasha terduduk di samping gundukan tanah merah yang bertuliskan nama kekasihnya, CAKRA KUSUMA WARDHANA. Ia sudah tak menangis lagi, airmatanya seakan mongering hari ini. Di sampingnya, Papa Sasha memeluk Sasha dengan erat, member kekuatan untuk putrinya. Sasha meletakkan kepalanya di pundak papanya.
“Pulang yuk Sha…” Ajak Papa Sasha.
“Sebentar, Pa.. Sasha mau di sini sebentar lagi..” Jawab Sasha.
“Tapi sebentar lagi hujan sayang…” Bantah Papa Sasha, berusaha membujuk Sasha.
“Sasha tau, Pa.. Biarin Sasha main hujan sama Cakra untuk terakhir kalinya, Sasha mohon…” pinta Sasha.
Papa Sasha hanya mengangguk. Mungkin lebih baik, beliau menunggu Sasha di dalam mobil saja. Papa Sasha bangkit dan meninggalkan Sasha. Sasha mengusap wajah Cakra di dalam foto sambil tersenyum. Seketika, Sasha merasa melihat semua kejadian bersama Cakra.
Saat ia bertemu Cakra untuk pertama kali, saat pulang sekolah dan sedang hujan. Saat itu, Cakra yang belum mengenalnya, dengan seenaknya menarikSasha ke dalam hujan, itu membuat Sasha esoknya tidak masuk karena demam. Saat Sasha dan Cakra berada di taman, sedang merayakan hari jadi mereka yang sebulan, namun hujan mengguyur taman itu hingga acarapun gagal.
Sasha tersenyum mengingat itu semua. TES! Sasha merasa setetes air mengenai dahinya. Ia mendongak dan melihat awan hitam berarak dengan riangnya. Kali ini, tiada gerutuan keluar dari bibir cantik gadis ini, namun ia kembali tersenyum. Sasha tau sekarang, mengapa Cakra pergi saat hujan turun, karena hujan selalu ingin bersama Cakra, sama seperti saat momen-momen specialnya bersama Cakra yang selalu diguyur hujan, karena hujan menyayanginya.

*Selesai. Gimana? Bagus nggak? Nggak ya? Yah… L Ayo, kasih kritik nya, Butuh banget nih, sarannya juga Tata butuhin banget. Ntar yang pertama kali komen Tata kasih brondong manis deh.. Xixixi.. Thanks all yang udah mau baca J See You next story*

Postingan populer dari blog ini

[DRABBLE] : DON’T SICK AGAIN, YO… Pagi itu, saat upacara bendera, aku melihatnya yang tiba-tiba berlari. Semua mata menatap dirinya yang memucat. Ya ampun, dia kenapa? Aku pun memutuskan untuk mengikutinya. Dan ternyata, dia berlari ke arah toilet. Toilet cowok.
Sesampai di toilet, aku bias mendengar suara orang muntah, yang kuyakini adalah dirinya. Sesekali terdengar batuk yang keras dan rintihan menahan rasa sakit. Aku harus masuk dan melihatnya. Aku sudah tidak peduli dengan status tempat ini yang bernama ‘toilet cowok’.

[Cerpen] Biakan Aku Pergi

Biakan Aku Pergi
#Ini pengganti yang ‘The Last Valentine’. Kenapa aku ganti? Karna feel cerita yang judulnya itu udah ga ada lagi. udah memudar *cielah bahasa gue—a* Ini aku pake CakShil kok, tenang, masih menuhin request’an Kakak Nia Sumiati tercintah *eh! Dan masih sesuai request’an kok. So, mending lanjut aja yaa... Happy reading, don’t forget to comment and give your thumbs, right!#
“Aku mau kita putus.”ucap Cakka pada Shilla.
“Putus? Kenapa?”tanya Shilla sambil menatap Cakka dalam, berusaha mencari kebohongan di manik mata Cakka, tapi nihil.
“Aku udah ga nyaman sama kamu.”jawab Cakka.
“Gitu?” “Iya.”jawab Cakka –lagi-
“Oke, kita putus.”ujar Shilla lalu beranjak dari kursinya, berniat pergi dari cafe.
Cakka mengusap wajahnya saat punggung Shilla mulai menghilang dari pandangannya. Dadanya terasa terhimpit saat mengatakan kata ‘putus’ tadi. Jujur saja, semuanya yang ia ucapkan tadi adalah bohong belaka. Cakka masih sangat menyayangi Shilla, dan masih nyaman di sebelah Shilla. Tapi C…