Langsung ke konten utama

KEMERDEKAAN SEMU

Kemerdekaan semu

“MERDEKA!!! MERDEKA!!!” Wuaaaah… rasanya bangga sekali mendengar teriakan seperti itu setiap tahun. Tepat tanggal 17 Agustus setiap tahunnya selalu terdengar kata “MERDEKA”. Tapi, sadarkah kita bahwa ucapan itu hanya ucapan di bibir belaka? Tak ada ketulusan saat mengucapkannya. Apa alasannya?

Alasannya, karena kita belum merdeka! Kita masih dijajah. Yah, memang Jepang dan Belanda tak lagi menjajah Indonesia, bangsa lain pun tak ada. Tapi sadarkah kita, bahwa negeri kita dijajah oleh kita sendiri? Pemilik sah negeri ini? Orang-orang yang dipercaya Tuhan untuk merawat bumi pertiwi?



Negeri kita belum merdeka, gan. Kita masih sangat dijajah. Dijajah oleh para pemimpin di kursi sana, para wakil kita di gedung Senayan, bahkan para masyarakat di samping kita. Bagimana mereka menjajah kita? Tentu dnegan menguras uang negara secara perlahan. Kita bukannya semakin kaya dengan perkembangannya jaman, tapi malah semakin melarat. Di sana sini ada banyak sekali orang-orang gelandangan berkeliaran, para pengamen, para pengemis, para anak di bawah umur yang putus sekolah.

Mereka semua tak mengharapkan itu semua guys, mereka juga menginginkan punya rumah yang layak seperti kita, mereka juga ingin bisa merasakan bangku sekolah hingga kuliah. Mereka juga ingin bekerja di ruangan ber-AC. Tapi mereka terpaksa memutus harapan mereka, membuang jauh-jauh harapan mereka hanya karena krisis yang berkepanjangan.

Sering kita mendengar, masa Orde Baru itu masa korupsi merajalela, Orde Baru sama dengan tangan besi. Tapi tak taukah kita, justru di jaman itu lah kita mengalami kemajuan pesat? Di jaman itulah semua orang di bumi Indonesia ini bisa berpijak dengan gagahnya? Di jaman itulah semua barang kebutuhan berharga di bawah rata-rata. Tapi mungkin memang karena itulah hutang-hutang kita pada luar negeri menanjak, sehingga Alm. Soeharto pun harus hengkang dari kursinya dan digantikan Pak Habibie yang di jamannya disebut jaman reformasi
.

Reformasi? Hanya opini! Reformasi itu sendiri hanya berlangsung beberapa saat. Dan tak berdampak besar bagi masyarakat Indonesia. Hanya sebagian kecil yang bisa merasakannya, padahal perjuang-pejuang reformasi jumlahnya tak hanya sedikit. Sebenarnya, apa sih makna reformasi itu sendiri? Apa sih makna dari kemerdekaan? Semu!

Tak ada seorang yang peduli akan semunya reformasi dan juga kemerdekaan itu, apalagi kebangkitan nasional yang baru kita peringati hari Minggu lalu. Tak ada artinya apa-apa. Hanya sebuah tanggal biasa yang berwarna merah (karena hari Minggu). Tak ada hal yang istimewa untuk hari itu, mungkin hanya sekedar upacara bendera.

Tapi buat apa upacara bendera memperingati hari itu? Toh, sebenarnya Hari Kebangkitan Nasional itu sendiri nggak ada! Itu hanya sebuah tanggal peringatan tanpa ada bukti nyata. Pernahkah, kalian menyadari hal itu? Pernahkah kita berpikir dan berinisiatif untuk bertindak dan berjalan untuk mewujudkan hari Kebangkitan Nasional itu? Pernahkah kita berkeinginan untuk menjadikan hari Kemerdekaan itu sebagai hal yang nyata, bukan semu?

Ayo, guys. Kita generasi penerus bangsa ini. Apabila kita hanya berleha-leha di depan komputer, di depan Blackberry, buat apa? Bagaimana nasib bangsa kita di jaman kita nanti? C’mon guys, ayo bersama-sama kita mulai bangkit dari keterpurukan bangsa kita. Dari hal yang kecil saja, yaitu membayar pajak. Itu saja sudah sedikit membantu negara kita untuk berbenah. Dan wujudkan hari Kemerdekaan dan Kebangkitan Nasional itu sebagai hal yang nyata.

MERDEKA!! MERDEKA!!

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku
Hiduplah negeriku
Bangsaku rakyatku
Semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia raya
Indonesia raya merdeka merdeka
Tanahku negeriku yang ku cinta
Indonesia raya merdeka merdeka
Hiduplah Indonesia raya!!

Postingan populer dari blog ini

[DRABBLE] : DON’T SICK AGAIN, YO… Pagi itu, saat upacara bendera, aku melihatnya yang tiba-tiba berlari. Semua mata menatap dirinya yang memucat. Ya ampun, dia kenapa? Aku pun memutuskan untuk mengikutinya. Dan ternyata, dia berlari ke arah toilet. Toilet cowok.
Sesampai di toilet, aku bias mendengar suara orang muntah, yang kuyakini adalah dirinya. Sesekali terdengar batuk yang keras dan rintihan menahan rasa sakit. Aku harus masuk dan melihatnya. Aku sudah tidak peduli dengan status tempat ini yang bernama ‘toilet cowok’.

[Cerpen] Biakan Aku Pergi

Biakan Aku Pergi
#Ini pengganti yang ‘The Last Valentine’. Kenapa aku ganti? Karna feel cerita yang judulnya itu udah ga ada lagi. udah memudar *cielah bahasa gue—a* Ini aku pake CakShil kok, tenang, masih menuhin request’an Kakak Nia Sumiati tercintah *eh! Dan masih sesuai request’an kok. So, mending lanjut aja yaa... Happy reading, don’t forget to comment and give your thumbs, right!#
“Aku mau kita putus.”ucap Cakka pada Shilla.
“Putus? Kenapa?”tanya Shilla sambil menatap Cakka dalam, berusaha mencari kebohongan di manik mata Cakka, tapi nihil.
“Aku udah ga nyaman sama kamu.”jawab Cakka.
“Gitu?” “Iya.”jawab Cakka –lagi-
“Oke, kita putus.”ujar Shilla lalu beranjak dari kursinya, berniat pergi dari cafe.
Cakka mengusap wajahnya saat punggung Shilla mulai menghilang dari pandangannya. Dadanya terasa terhimpit saat mengatakan kata ‘putus’ tadi. Jujur saja, semuanya yang ia ucapkan tadi adalah bohong belaka. Cakka masih sangat menyayangi Shilla, dan masih nyaman di sebelah Shilla. Tapi C…