Langsung ke konten utama

PRAHARA CINTA


Aku terseok menyusuri hatimu
Hatimu yang dipenuhi dengan labirin menyesatkan
Entahlah, aku senditi tak tau
Bilamana ku dapat mencapai tahta hatimu
Yang ku tau,
Ku hanya cinta padamu
Dan kau hanyalah milikku

Namun, tak pernah ku duga
Tak pernah ku sangka
Prahara itu menghantamku
Membuatku terhempas hingga gerbang hatimu
Kau berpaling
Berpaling pada hati yang baru kau kenali


Hatiku terluka
Namun kau tak peduli
Hatiku tersayat
Namun kau malah pergi

Ke mana kamu?
Ke mana kamu yang dulu?
Yang dulu selalu jagai hatiku
Yang dulu selalu hampiri sunyiku
Di mana janjimu?
Janji yang dahulu kau ikrarkan dalam hati ini
Janjimu yang tak pernah tinggalkanku

Kini ku coba bangkit kembali
Coba obati luka ini sendiri
Coba sembuhkan sayatan ini tanpamu
Aku pun mencoba mencarimu lagi
Namun yang ku temui
Hanyalah jejak langkahmu yang tlah pergi
Pergi tinggalkanku tuk bersamanya

Postingan populer dari blog ini

[DRABBLE] : DON’T SICK AGAIN, YO… Pagi itu, saat upacara bendera, aku melihatnya yang tiba-tiba berlari. Semua mata menatap dirinya yang memucat. Ya ampun, dia kenapa? Aku pun memutuskan untuk mengikutinya. Dan ternyata, dia berlari ke arah toilet. Toilet cowok.
Sesampai di toilet, aku bias mendengar suara orang muntah, yang kuyakini adalah dirinya. Sesekali terdengar batuk yang keras dan rintihan menahan rasa sakit. Aku harus masuk dan melihatnya. Aku sudah tidak peduli dengan status tempat ini yang bernama ‘toilet cowok’.

[Cerpen] Biakan Aku Pergi

Biakan Aku Pergi
#Ini pengganti yang ‘The Last Valentine’. Kenapa aku ganti? Karna feel cerita yang judulnya itu udah ga ada lagi. udah memudar *cielah bahasa gue—a* Ini aku pake CakShil kok, tenang, masih menuhin request’an Kakak Nia Sumiati tercintah *eh! Dan masih sesuai request’an kok. So, mending lanjut aja yaa... Happy reading, don’t forget to comment and give your thumbs, right!#
“Aku mau kita putus.”ucap Cakka pada Shilla.
“Putus? Kenapa?”tanya Shilla sambil menatap Cakka dalam, berusaha mencari kebohongan di manik mata Cakka, tapi nihil.
“Aku udah ga nyaman sama kamu.”jawab Cakka.
“Gitu?” “Iya.”jawab Cakka –lagi-
“Oke, kita putus.”ujar Shilla lalu beranjak dari kursinya, berniat pergi dari cafe.
Cakka mengusap wajahnya saat punggung Shilla mulai menghilang dari pandangannya. Dadanya terasa terhimpit saat mengatakan kata ‘putus’ tadi. Jujur saja, semuanya yang ia ucapkan tadi adalah bohong belaka. Cakka masih sangat menyayangi Shilla, dan masih nyaman di sebelah Shilla. Tapi C…