Langsung ke konten utama

THE DREAM~


*Sebelumnya Cuma mau bilang, INI BENERAN CERITA TERNGGAK JELAS YANG PERNAH AKU BUAT. DAN NI HANYA MIMPI. OKE! BUKAN SEBENERNYA. (capslock diinjek sama kecoa :p )*

THE DREAM

Fano Fano Fano! Satu nama yang sangat indah. Sederhana memang, tapi indah buatku. Dia lelaki yang sangat baik bagiku. Dia mampu mengembalikan senyumku yang hilang karena masa laluku. Dia itu, bagaikan seorang malaikat yang dikirim Tuhan untuk seorang Tata yang tengah dirundung pilu. Hahaha, aku lebay. Yah, aku memang selalu lebay kalau berdekatan dengan Fano. Karna dia istimewa, selalu istimewa.
“Ta! Tunggu!”sebuah suara memanggilku dari belakang. Aku menoleh, dan seketika senyumku merekah. Fano.
“Hey, No.. Kenapa?” “Pulang bareng yuk! Aku males nih pulang sendirian…”pintanya.
“Okeeey… Tapi, sebelum itu, temenin aku ke Alfa ya.. Mau beli ice cream. Hehehe”jawabku sambil tersenyum.
Fano mngacak rambutku. “Ice cream mulu! Awas lho ntar gendut…”ucap Fano.
Aku merengut sebal sambil membenahi rambutku. “Ahh… Fano!!! Berantakan kan!!!” “Tetep cantik kok. Udah yuk…”celetuknya santai.


Aku menoyor keningnya dnegan sangat santai juga. Yah, beginilah, aku dan Fano. Sahabat yang mesra. Ada kabar burung sih, beberapa hari lagi, Fano akan menembakku, tapi aku nggak mau berharap lebih, takutnya ntar jatuh. Aku pun berjalan beriringan dnegan Fano menuju gerbang sekolah. Saat aku dan Fano sampai di gerbang, sebuah suara memanggil namaku. Sontak aku menoleh, tapi tanpa antusiasme yang tinggi seperti tadi. Hehehe.
“Marta ya?” aku mengerutkan keningku lalu menoleh pada Fano, Fano mengangkat bahunya, tanda dia juga bingung sepertiku.
“Eum, iya, Aku Marta. Tapi panggil Tata aja. Eum…Koko ini sapa ya?”jawabku. Aku memanggilnya ‘koko’ karena sepertinya dia lebih tua dari aku.
“Aku… Aku Ko Will.. Masa lupa seh?” seketika raut wajahku menegang.
“Ngapain Koko kesini?”suaraku beubah menjadi dingin, aku mengeratkan genggamanku pada Fano.

Fano membalasnya dan menggumamkan sesuatu padaku, seperti, be strong. Aku mengangguk pelan. Aku tau, Fano pasti merasakan kegundahanku saat bertemu Ko Will. Heum, Ko Will ini adalah masa laluku. Masa laluku yang suram. Aku sempat terjatuh karena dibuang sama dia. Tapi aku berhasil bangkit berkat bantuan Fano.
“Koko mau minta maaf, Me… Maafin Koko wis buat Meme kayak gini.. Maafin Koko wis jahat sama Meme. Meme mau maafno Koko?” Tuhan, kenapa panggilan itu lagi! aku benci denger panggilan itu dari mulut dia!
“Aku maafin Koko kok. Ya udah, aku mau pulang. Ayo, No.”jawabku lalu menarik tangan Fano untuk menjauh dari Ko Will.

Aku cuma takut tiba-tiba ambruk karna nggak kuat nahan perih yang nggak tau kenapa muncul lagi. fano mengangguk, lalu dengan sangat santai, dia merangkul pundakku. Sepertinya dia tau, kalau saat ini aku sedang lemah. Tapi tiba-tiba, sebuah tangan menarik anganku yang kosong. Aku menghela nafas. Ko Will.

Aku menoleh dengan geram. Apa sih maunya cowok ini? Nyebelin! Fano semakin mengeratkan rangkulannya. Perlahan aku melepas rangkulan Fano. Meminta sedikit waktu buat sama Ko Will. Ko Will tersenyum kecil melihatku yang seperti memberinya kesempatan. Padahal, aku nggak pernah sudi.
“Me, Meme masih sayang kan sama Koko? Meme masih pengen kan jadi orang istimewa’e Koko?”ucapnya sambil menarik tanganku.
Aku melepas tangannya, risih. “Sorry Ko, tapi aku nggak isa.”
“Kenapa?” “Karena aku wis nggak sayang sama Koko. Sayangku ke Koko wis nipis bahkan hampir hilang. Dan aku udah nggak mau jadi orang istimewa’e Koko. Aku terlanjur sakit hati sama perlakuane Koko dulu.”jawabku cepat, tiba-tiba aku ngerasain setetes air hangat turun di pipiku.

Ko Will mengulurkan tangannya, seakan ingin menghapus air mataku, tapi aku menghindar, aku nggak mau tangan playboy seperti dia menyentuh pipiku. “Maafin Koko, Me… Dulu Koko bener-bener buta sama cinta’e Koko ke cewek lain. Koko nggak nyadar kalo yang Koko sayang cuma Meme. Koko janji, Koko nggak akan sakiti Meme lagi.”
“Tetep nggak bisa, Ko. Aku udah punya yang lain. Yang lebih bisa jaga perasaanku, yang lebih bisa megang janjie buat aku. Koko sadar nggak, dulu Koko ya pernah bilang gitu ke aku. Koko bilang, nggak pernah ninggalno aku, tapi apa, setahun aku berjuang dewe ngejer Koko, berusaha jadi orang istimewa’e Koko. Tapi, setelah semua’e itu nggak ada hasile, aku komitmen buat lupano Koko. Percuma aku terus-terus berharap sama harapan palsue koko.”jawabku, kali ini air mataku benar-benar menderas.
“Maafno aku, Me… Aku…” “Aku udah maafno Koko. Tapi aku juga minta maaf ke Koko, aku nggak bisa dan nggak pernah bisa sama Koko lagi.”potongku.
Aku pergi ninggalin Ko Will sendirian yang duduk di motornya. Aku menarik Fano. Dan tanpa aku sadari, aku memeluk Fano. Aku butuh ketenangan sekarang. Fano membalas pelukanku sambil membelai rambutku. Dia seakan mengerti apa yang aku rasakan. Dan dengan sangat pelan, dia berbisik padaku.
“Udah, ya Ta… Jangan dipikirin lagi. aku sama kamu kok. Sekarang kita pulang. Aku anter kamu pulang. Jangan nangis lagi Ta, aku sayang kamu”ucapnya.
“Makasih No.”jawabku getir.
“Eh, katanya mau beli ice cream? Ayo, aku deh yang beli. Asal, kamu nggak nangis lagi. smile dong Ta… Mana nih, Tatanya Fano?” aku tersenyum geli mendengar ucapannya.
Enak aja, bilang Tatanya Fano. Hahaha. Aku mengangguk lalu menariknya ke Alfa. Dia membelikanku empat ice cream. Ice ceam yang murah sih, tapi nggak papa, kan dari Fano.
Dan… Akhirnya akupun terbangun dari tidurku.

*oke guys, this is just dream. Jangan anggep beneran. Memang sih, nama”x g ada yg asli, Cuma nama aku doing, tapi ini Cuma mimpi banget! Udah berkali-kali aku mimpi kayak gini. So, akhir kata, sorry ya, kalo geje dan lebay. Hoho*

Postingan populer dari blog ini

[DRABBLE] : DON’T SICK AGAIN, YO… Pagi itu, saat upacara bendera, aku melihatnya yang tiba-tiba berlari. Semua mata menatap dirinya yang memucat. Ya ampun, dia kenapa? Aku pun memutuskan untuk mengikutinya. Dan ternyata, dia berlari ke arah toilet. Toilet cowok.
Sesampai di toilet, aku bias mendengar suara orang muntah, yang kuyakini adalah dirinya. Sesekali terdengar batuk yang keras dan rintihan menahan rasa sakit. Aku harus masuk dan melihatnya. Aku sudah tidak peduli dengan status tempat ini yang bernama ‘toilet cowok’.

[Cerpen] Biakan Aku Pergi

Biakan Aku Pergi
#Ini pengganti yang ‘The Last Valentine’. Kenapa aku ganti? Karna feel cerita yang judulnya itu udah ga ada lagi. udah memudar *cielah bahasa gue—a* Ini aku pake CakShil kok, tenang, masih menuhin request’an Kakak Nia Sumiati tercintah *eh! Dan masih sesuai request’an kok. So, mending lanjut aja yaa... Happy reading, don’t forget to comment and give your thumbs, right!#
“Aku mau kita putus.”ucap Cakka pada Shilla.
“Putus? Kenapa?”tanya Shilla sambil menatap Cakka dalam, berusaha mencari kebohongan di manik mata Cakka, tapi nihil.
“Aku udah ga nyaman sama kamu.”jawab Cakka.
“Gitu?” “Iya.”jawab Cakka –lagi-
“Oke, kita putus.”ujar Shilla lalu beranjak dari kursinya, berniat pergi dari cafe.
Cakka mengusap wajahnya saat punggung Shilla mulai menghilang dari pandangannya. Dadanya terasa terhimpit saat mengatakan kata ‘putus’ tadi. Jujur saja, semuanya yang ia ucapkan tadi adalah bohong belaka. Cakka masih sangat menyayangi Shilla, dan masih nyaman di sebelah Shilla. Tapi C…