Langsung ke konten utama

[CERPEN] This Is My Happiness *sekuel UNTITLE*

Title : This is My Happiness (ONESHOOT)
Author : Tata Lolyta
Genre : Romance, drama, sad, happy ending J
Length : 6 page, 2089 word with space
Summary : Cuma khayalan aja sih... Ada harapan ini akan jadi kenyataan di masa depan...

Jembatan itu, hanya akan berhasil terbangun
Jika ada perdamaian antara individunya

Nothing is imposible at this world, you need to believe that!

Aku menghembuskan nafas keras saat kedua kakiku menjejaki bebatuan di Pantai Kenjeran. Ini pertama kalinya semenjak aku kembali ke kota ini dua tahun lalu. Aku tak cukup berani untuk membawa hatiku ke tempat ini. Segala kenangan di tempat ini, masih melekat erat di otakku walau sudah berselang lebih dari lima tahun.

Aku menatap hamparan air asin di depanku sambil merentangkan kedua tanganku. Sungguh lucu melihat tingkahku saat ini jika mengingat kenyataan bahwa kini aku bukan lagi seorang remaja kelas dua SMA. Dan, tanpa bisa ku cegah, mataku terasa panas, pandanganku mulai buram karena air mata.


Haah, ternyata walau sudah sangat lama, aku tetap tak bisa mencegah air mataku ke luar.

Ah, berada di tempat ini, membuatku benar-benar lemah. Aku menghapus air mataku dengan kasar. Lalu beranjak pergi dari tempat ini. Kebetulan, jam makan siangku sudah habis, dan aku harus kembali ke kantor. Aku pun memakai kacamata hitamku dan berjalan menuju mobil Audi putihku yang terparkir tak jauh dari warung-warung penjual sate kerang yang dari dulu tak pernah berubah.


Ah, aku ingat, Kak Sendy, teman yang tinggal dalam satu rumah denganku (dia anak teman mamaku), sangat suka lontong kupang dan sate kerang, kenapa aku tidak membelikannya saja? Aku pun mengurungkan niatku memasukki mobvil. Aku berbalik berjalan menuju warung sate kerang bertenda hijau. Sesampai di sana, aku disambut oleh ibu pemilik warung sate kerang.

“Mau pesan apa, Neng?”tanya ibu itu.

“Saya pesan lontong kupang sama sate kerangnya ya, Bu. Masing-masing dua porsi. Jangan pedes-pedes ya...”jawabku.

“Tunggu sebentar ya, Neng...”balas ibu itu.

Aku hanya mengangguk lalu beranjak menuju salah satu bangku di warung itu. Aku memilih bangku yang menghadap pantai. Sembari menikmati udara pantai yang kian dingin, aku membuka smartphone-ku. Ternyata ada banyak pesan masuk dan missed call. Dari Kak Sendy. Aku melihat jam tangan putihku. Jam tujuh. Pantas saja Kak Sendy mencariku, ini sudah dua jam dari jam pulang kantorku. Lebih baik aku menelponnya lagi.

“Hallo...” “Tata! Kamu ke mana sih? Aku telpon daritadi gak bisa-bisa...”ujar Kak Sendy tanpa membalas sapaanku.

“Sorry, Kak... Aku lagi di Kenjeran nih... Kenapa emangnya?”tanyaku.

“Ta, ada cowok nyariin kamu daritadi. Aku gak kenal dia siapa, tapi dia kayaknya kenal kamu deh. Dia manggil kamu ‘Lyta’. Kamu bisa pulang secepetnya gak? Soalnya nih cowok gak mau pulang sebelum ketemu kamu katanya...”jawab Kak Sendy.

Lelaki yang memanggilku ‘Lyta’? Apakah dia? “Oh, mungkin temen SMA-ku, Kak. Ya udah, suruh tunggu aja. Aku lagi nunggu lontong kupang buat Kakak sebentar.”balasku.

“Oke... Jangan lama-lama ya... Dan, usahain tuh lontong kupang tetep anget sampe di rumah.”ujar Kak Sendy.

“Haha... Oke...”balasku.

Aku mematikan sambungan teleponku. Dan, ternyata pesananku sudah selesai. Aku pun mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang. Setelah mengucapkan terima kasih, aku pun berjalan menuju mobilku. Tapi belum selangkah aku berjalan, suara ibu-ibu pemilik warung terlebih dahulu mencegatku.

“Neng...”panggil ibu itu.

“Iya, Bu?”jawabku.

“Neng yang dulu sering ke sini kan? Sama Mas Exel itu... Kok lama gak keliatan sama Mas Exel, Neng? Kata Mas Exel, Neng pindah kota ya?”tanya ibu
itu.

Aku tercekat. Ibu ini mengenal Ko Axel, berarti laki-laki itu masih sering kemari. “Ehm... Iya, Bu. Saya memang pindah kota...”jawabku lagi.

“Ooh... Pantesan... Makanya, Mas Exel sering sendirian ke sini...” “Memang dia sering ke sini ya, Bu?”tanyaku.

“Iya, Neng. Tiap hari Selasa malem, Mas Exel sering ke sini. Dia nitip mobilnya di warung saya, Neng. Tapi, kasian, tiap ke sini, muka Mas Exel murung
terus... Kayak yang inget apa gitu, yang bikin sedih...”jawab ibu itu.

“Oh gitu...” “Oya, kalau boleh tau, nama Neng ini siapa ya?”tanya ibu itu.

“Saya Tata, Bu... Ah, saya pamit dulu, Bu. Kemaleman. Terima kasih banyak ya, Bu...”jawabku.

Tanpa mendengar jawaban ibu itu, aku pun memasuki mobilku dan memacunya perlahan. Tak sampai satu jam, karena jalanan lengan, aku pun tiba di rumahku yang berdesain minimalis. Yah, aku memang lebih menyukai rumah berdesain minimalis daripada yang terlalu mewah. Aku memarkirkan mobilku di sebelah Honda Jazz milik Kak Sendy lalu bergegas masuk, tak lupa aku membawa lontong kupang dan sate kerangku.

Langkahku terhenti saat melihat sepatu hitam yang terduduk rapi di depan pintu masuk. Apa pemilik sepatu ini adalah dia? Tapi, aku tak melihat mobil atau kendaraan lain di sini. Setelah terdiam beberapa saat, aku pun masuk ke dalam rumah. Dan langkahku benar-benar terhenti saat melihatnya sedang bergurau dengan Kak Sendy di ruang tengah.

“Kamu ngapain ke sini?”tanyaku, berusaha dingin, aku benar-benar belum siap menemuinya lagi setelah kejadian di kantor minggu lalu.

“Lyta... Hai...”jawabnya.

“Ta, Kakak masuk dulu ya...”pamit Kak Sendy.

“Ini lontong kupang Kakak.”balasku sambil menyodorkan kantung plastik hitam ke Kak Sendy.

“Oke. Thanks cantik...”ujar Kak Sendy lalu bergegas menuju dapur yang menjadi satu dengan ruang makan.

Dan, kini hanya tinggal aku dengannya. Aku melepas blazzer hitamku dan meletakkan tas tanganku di meja yang ada di ruang tengah itu. Sedangkan dia, -aku benci mengakui ini- memandangiku terus menerus. Setelah itu aku pun mengambil duduk di sofa yang cukup jauh darinya.

“Darimana kamu tau alamat rumahku?”tanyaku sarkatis.

Bukannya menjawab, laki-laki itu malah tersenyum. “Koko kan bisa dapatin apapun yang Koko inginkan, Lyt. Dan, wow, Koko sempet kaget waktu tau Lyta ternyata tinggal sama cowok.”ujarnya.

“Dia anak kenalan mamaku, dan aku sudah mengenalnya dari aku kecil. Jadi tidak masalah. Dan, lagipula itu bukan urusan kamu.”jawabku.

Aku melihatnya memutar bola matanya. Ah, bola mata cokelat itu. “Lalu, apa tujuanmu ke sini sekarang? Cepat. Aku tidak punya banyak waktu.”suruhku.

“Tapi Lyta masih sempet ke Kenjeran kan tadi? Itu yang Lyta bilang gak punya banyak waktu?”tanyanya sarkatis.

“Koko!”sentakku kesal.

“Ini pertama kalinya Lyta manggil Koko dengan benar... Lyt... Koko yakin, Lyta pasti tau apa maksud Koko ada di sini sekarang... Alasan yang sama dengan yang Koko katakan pada Lyta minggu lalu.”katanya.

“...” Aku tak menjawab ucapannya.

“Koko, atas nama Mama dan diri Koko pribadi, bener-bener minta maaf karena pernah membuat Lyta terpuruk, atau bahkan kehilangan harga diri. Dan juga karena Koko gak bisa mempertahanin Lyta dulu...” “Gak bisa? Gak bisa apa gak mau?”potongku cepat.

“Lyta...” “Apa? Kamu mau bilang kalo kamu gak bisa mempertahanin aku dulu? Aku rasa bukan kamu gak bisa, tapi KAMU GAK MAU. Kamu gak mau mempertahanin aku yang miskin, yang lugu, yang masih anak kecil, dan aku yang punya mata cacat. Kamu gak mau mempertahanin aku.”potongku lagi, kali ini aku beranjak berdiri.

“Lyta... Lyta tau sendiri, dulu kita sama-sama gak punya modal apapun buat bikin Mama berubah pikiran. Lyta inget waktu kita puasa selama satu bulan supaya bisa buat Mama berubah pikiran? Bahkan, dengan apa yang kita punya satu-satunya dulu aja, Mama gak berubah...”jawabnya.

“Oh, apa kamu juga inget, dulu waktu kita puasa, kamu gak pernah punya inisiatif buat ngobrol sama Mama kamu, buat bikin aku terlihat baik di depan Mama kamu? Lalu, sekarang waktu aku sudah punya segalanya, kamu baru kembali. Mamamu baru menyukaiku. Ck! Aku jadi tau sekarang, alasan kenapa mamamu dulu gak menyukaiku. Picik.”ujarku kasar.

“Lyta. Apa maksud Lyta bilang sekasar itu?”tanyanya dengan nada tinggi. Sepertinya dia terpancing emosi.

Dia pikir aku akan takut? “Buat apa kamu marah saat aku bilang sekasar itu? Atau memang benar? Iya? Ck. Ah, aku bersyukur, aku sudah membuang semua perasaanku ke kamu. Aku bisa bebas dari sikap picik kamu dan mamamu.”balasku.

“Lyta!”bentaknya.

“Dan sekarang, aku minta kamu untuk tinggalin rumah aku. Aku muak liat muka sok suci kamu itu! Dan, oya, bilangin mamamu itu, terima kasih atas sikapnya dulu. Seenggaknya karena sikap mamamu juga aku bisa punya segalanya sekarang.”ujarku.

“Lyta...” “Kamu tau pintu keluarnya kan?”potongku.

Dia terdiam. Lalu segera berbalik keluar rumahku. Setelah yakin laki-laki itu pergi, aku merebahkan tubuhku ke sofa dengan lemas. Aku menangkupkan wajahku ke dalam tanganku. Beberapa saat kemudian aku mearasakan rengkuhan hangat memeluk tubuhku. Pasti Kak Sendy.

“Ta, kamu gak seharusnya berkata sekasar itu pada Axel...”ujar Kak Sendy.

Aku mendongakkan wajahku ke arahnya. “Aku marah Kak, dia baru kembali sekarang. Kenapa baru sekarang dia kembali, dan kenapa baru sekarang juga mamanya menyukaiku? Padahal aku masih Lyta-nya dia yang dulu. Aku masih sama seperti dulu.”balasku.

“Yah, Kakak tau kamu marah ke mereka. Tapi kamu gak boleh kasar. Ke mana Tata-nya Kak Sendy yang lembut, yang selalu menjaga ucapannya? Dan, bukannya kamu juga pernah bilang ke Kakak kalo kamu masih mencintainya? Kenapa kamu gak memberi kesempatan padanya dulu? Mungkin saja dia benar-benar sudah berubah...”kata Kak Sendy.

“Tapi, Kak...” “Ta, jangan sampai kamu menyesal untuk kedua kalinya. Axel sudah mulai mau membangun jembatan kalian lagi, dan seharusnya, kalau kamu masih mencintainya, kamu mau membantunya. Yah, meskipun kamu gak mau kembali berpacaran, seenggaknya jadikanlah jembatan itu untuk pertemanan...”potong Kak Sendy.

Aku terdiam. Aku segera melepas rengkuhan Kak Sendy dan segera berlari keluar rumah. Yah, aku tidak mau menyesal lagi. Ini yang aku harapkan dari dulu, dan harusnya aku tidak membuatnya hilang lagi. Aku melihat ke sekelilingku mencari keberadaannya, namun tak ku temukan. Aku pun kembali ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobilku.

Dengan kecepatan sedang aku mengitari jalanan komplek perumahanku. Tapi tetap tak ku temukan dia. Aku memarkirkan mobilku sebentar di tepi jalan. Tapi kemudian aku ingat, satu tempat yang kemungkinan besar bisa membuatku menemukannya. Aku pun kembali memacu mobilku, namun kali ini dengan kecepatan yang cukup kencang.

Tak lama kemudian aku tiba di Kenjeran. Aku memarkirkan mobilku di sebelah sebuah mobil Mercedes hitam yang terlihat cukup elegant. Aku segera berlari menuju pantai dan aku menghentikan langkahku saat mendapatinya sedang berdiri sambil merentangkan kedua tangannya menghadap ke hamparan air asin di depannya.

Tanpa berpikir lagi, aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Aku merasakan dia cukup terkejut, dia hendak membalikkan tubuhnya tapi aku tahan. Aku malah mengeratkan pelukanku. Aku ingin melampiaskan segala kerinduanku pada bahunya yang hangat. Tapi tak lama, aku melepasnya sambil sesekali terisak kecil. Ia pun membalikkan tubuhnya.

“Hei... Lyta...”panggilnya.

“...”aku tak menjawab, masih tetap terisak.

“Ssstt... jangan nangis...”ujarnya.

“Maafin Lyta, Ko. Lyta memang buruk. Lyta memang buruk buat Koko. Bahkan saat Koko meminta maaf sama Lyta, Lyta malah memarahi Koko... Maafin lyta...”kataku, namun terpotong karena ia menempelkan jari telunjuknya di bibirku.

“Hei... Lyta gak salah... Lyta memang sepatutnya marah sama Koko... Koko yang terlalu pengecut dan terlalu menuruti Mama Koko dulu...”ujarnya lagi.
Aku tak mampu lagi berkata-kata. Aku menariknya kembali ke dalam pelukanku dan kembali menangis di bahunya. Ah, bahu ini semakin kekar dari terakhir kali aku memeluknya. Dan, tanpa protes, ia membalas pelukanku, bahkan membuatnya semakin erat.

“Lyta sayang Koko... Lyta gak pernah membenci Koko... Seperti yang Lyta pernah bilang, Koko satu-satunya yang Lyta cintai, dan Lyta gak akan pernah berhenti mencintai Koko... Lyta cinta Koko...”kataku.

“Iya, Lyta... Koko tau... Koko tau...”jawabnya.

“Jangan buang Lyta lagi, Ko... Jangan sakiti Lyta lagi...”pintaku.

“Lyta kesayangannya Koko, Koko gak akan sakiti Lyta lagi. Never.”jawabnya.

“Lyta sayang Koko...” “Wo Aishitresnohamnida...”jawabnya lagi.

“Wo Aishitresnohamnida also...”balasku.

“Lyta...”panggilnya.

“Ya?”jawabku.

“Lyta mau jadi pacar Koko, lagi?”tanyanya.

Aku melepas pelukanku dan tersenyum, “Lyta mau bilang apa lagi selain, iya...”jawabku.

Ia tersenyum geli. Yah, kalimat itu yang aku katakan dulu, saat ia pertama kali menyatakan perasaanya padaku. Ia memelukku lagi. Kali ini dia yang menarikku ke pelukannya. Tapi, tak lama ia melepasku dan menatapku intens.

“May I...”ia menggantungkan ucapannya, tapi aku mengerti apa maksudnya.

Dengan perlahan namun pasti, aku mengangguk. Ia tersenyum lagi, tapi kemudian mendekat dan melumat bibirku dengan cepat. Tanpa berontak aku membalasnya. Bersamaan dengan itu, jantungku berdetak sungguh cepat. Ah, aku benar-benar bahagia. Aku mendapatkan kebahagiaanku kembali.

---

Satu bulan kemudian...

Aku sedang duduk di hadapan keluarga besarnya. Hari ini, pertama kalinya aku bertemu mereka setelah sekian lama aku tak bertemu. Papanya sudah sehat dan wajahnya benar-benar segar, beliau terlihat masih muda. Mamanya sendiri juga masih terlihat cantik walau daritadi beliau hanya tertunduk, tak berani menatapku.

“Ayi...”panggilku.

“Eng, iya Lyta? Ada apa? Apa Lyta merasa gak nyaman?”tanya mamanya.

“Iya. Lyta gak nyaman, Ayi...”jawabku.

“Apa...apa yang buat Lyta gak nyaman?”tanya beliau lagi.

“Lyta gak nyaman kalau Ayi terus menunduk seperti itu... Lyta juga merindukan Ayi...”ujarku tulus.

Mamanya memandangku lekat. Tapi kemudian beliau mendekatiku dan memelukku erat. Aku membalasnya. Di balik punggungku, aku dapat mendengar beliau terisak. Aku hanya mampu mengelus pungggungnya dengan sopan.

“Ayi... Ayi kenapa menangis?”tanyaku.

“Lyta... Ayi minta maaf, Ayi salah menilai Lyta dulu... Ayi salah hanya memandang Lyta dari fisik Lyta... Lyta bahkan jauh lebih baik dari Ayi...”jawab
beliau.

“Ayi... Lyta udah maafkan Ayi. Dan, Ayi juga baik kok, bahkan Lyta mau berterima kasih ke Ayi... Untuk semua pelajaran yang Ayi berikan dulu ke Lyta, dan terutama karena Ayi udah melahirkan Ko Axel, laki-laki yang sangat Lyta sayangi... Ayi ibu yang luar biasa...”ujarku setelah melepaskan pelukan beliau.

“Lyta...”beliau kembali memelukku.

Aku tersenyum hangat lalu membalas pelukannya. Kami terus berpelukan sampai ia datang membawa senampan jus jeruk di hadapan kami. Aku pun segera menghampirinya dan membantunya. Setelah itu kami pun duduk bersama dan menikmati sisa sore ini. Sambil menyesap jus jeruk buatannya, aku berdoa dalam hati.

Tuhan...
Biarkan kebahagiaanku ini tetap sampai aku mati
Amin

END

Kripik sama Sambalnya yaa, guys :D Btw, ini random tags, kalo ga suka ya bilang aja, nanti aku remove tagnya

Postingan populer dari blog ini

[DRABBLE] : DON’T SICK AGAIN, YO… Pagi itu, saat upacara bendera, aku melihatnya yang tiba-tiba berlari. Semua mata menatap dirinya yang memucat. Ya ampun, dia kenapa? Aku pun memutuskan untuk mengikutinya. Dan ternyata, dia berlari ke arah toilet. Toilet cowok.
Sesampai di toilet, aku bias mendengar suara orang muntah, yang kuyakini adalah dirinya. Sesekali terdengar batuk yang keras dan rintihan menahan rasa sakit. Aku harus masuk dan melihatnya. Aku sudah tidak peduli dengan status tempat ini yang bernama ‘toilet cowok’.

[Cerpen] Biakan Aku Pergi

Biakan Aku Pergi
#Ini pengganti yang ‘The Last Valentine’. Kenapa aku ganti? Karna feel cerita yang judulnya itu udah ga ada lagi. udah memudar *cielah bahasa gue—a* Ini aku pake CakShil kok, tenang, masih menuhin request’an Kakak Nia Sumiati tercintah *eh! Dan masih sesuai request’an kok. So, mending lanjut aja yaa... Happy reading, don’t forget to comment and give your thumbs, right!#
“Aku mau kita putus.”ucap Cakka pada Shilla.
“Putus? Kenapa?”tanya Shilla sambil menatap Cakka dalam, berusaha mencari kebohongan di manik mata Cakka, tapi nihil.
“Aku udah ga nyaman sama kamu.”jawab Cakka.
“Gitu?” “Iya.”jawab Cakka –lagi-
“Oke, kita putus.”ujar Shilla lalu beranjak dari kursinya, berniat pergi dari cafe.
Cakka mengusap wajahnya saat punggung Shilla mulai menghilang dari pandangannya. Dadanya terasa terhimpit saat mengatakan kata ‘putus’ tadi. Jujur saja, semuanya yang ia ucapkan tadi adalah bohong belaka. Cakka masih sangat menyayangi Shilla, dan masih nyaman di sebelah Shilla. Tapi C…