Langsung ke konten utama

[Puisi] Sayap yang Hilang

 Di tengah malam yang pekat
Udara kian mendingin
Pada sebuah taman
Seseorang duduk di bawah pohon ara
Tanpa memakai pakaian atasnya
Di balik punggungnya
Tetesan darah turun perlahan dar sana
Seiring dengan rintihan dari bibirnya

Aku menghampirinya
Dia hanya memandangku sekejao
Lalu menunduk dan kembali merintih
Aku bertanya, kenapa
Dia tetap merintih
Aku bertanya lagi, ada apa
Dia pun menatapku


Sayapku hilang
Mereka meninggalkanku di sini
Dan aku tak tau di mana mereka
Begitu katanya

Aku tak berani berkata
Hatiku berkecamuk
Apa yang harus aku lakukan
Aku ingin menolongnya
Mencari potongan sayapnya
Supaya ia dapat pulang

Mereka pasti kembali
Cepat atau lambat
Tenanglah
Ujarnya lagi
Seraya menggenggam tanganku

Aku terdiam
Kemudian mengangguk pasti
Ya
Mereka pasti kembali


Love,
Tata Lolyta
16 Desember 2014

16.25

Postingan populer dari blog ini

[DRABBLE] : DON’T SICK AGAIN, YO… Pagi itu, saat upacara bendera, aku melihatnya yang tiba-tiba berlari. Semua mata menatap dirinya yang memucat. Ya ampun, dia kenapa? Aku pun memutuskan untuk mengikutinya. Dan ternyata, dia berlari ke arah toilet. Toilet cowok.
Sesampai di toilet, aku bias mendengar suara orang muntah, yang kuyakini adalah dirinya. Sesekali terdengar batuk yang keras dan rintihan menahan rasa sakit. Aku harus masuk dan melihatnya. Aku sudah tidak peduli dengan status tempat ini yang bernama ‘toilet cowok’.

[Cerpen] Biakan Aku Pergi

Biakan Aku Pergi
#Ini pengganti yang ‘The Last Valentine’. Kenapa aku ganti? Karna feel cerita yang judulnya itu udah ga ada lagi. udah memudar *cielah bahasa gue—a* Ini aku pake CakShil kok, tenang, masih menuhin request’an Kakak Nia Sumiati tercintah *eh! Dan masih sesuai request’an kok. So, mending lanjut aja yaa... Happy reading, don’t forget to comment and give your thumbs, right!#
“Aku mau kita putus.”ucap Cakka pada Shilla.
“Putus? Kenapa?”tanya Shilla sambil menatap Cakka dalam, berusaha mencari kebohongan di manik mata Cakka, tapi nihil.
“Aku udah ga nyaman sama kamu.”jawab Cakka.
“Gitu?” “Iya.”jawab Cakka –lagi-
“Oke, kita putus.”ujar Shilla lalu beranjak dari kursinya, berniat pergi dari cafe.
Cakka mengusap wajahnya saat punggung Shilla mulai menghilang dari pandangannya. Dadanya terasa terhimpit saat mengatakan kata ‘putus’ tadi. Jujur saja, semuanya yang ia ucapkan tadi adalah bohong belaka. Cakka masih sangat menyayangi Shilla, dan masih nyaman di sebelah Shilla. Tapi C…