Langsung ke konten utama

Kangen Masa Kecil~

Barusan, lagi buka-buka album di laptop, dan ketemu foto ini...
Foto ini, diambil pas aku lagi ulang tahun umur 3. Aku udah gak inget apa-apa soal peristiwa ini, sih... Tapi, aku masih bisa ngerasain, gimana bahagianya aku dulu kecil...
Ya...
Aku berani bilang, kalo dulu memang aku bahagia, bahkan sangat bahagia...
Aku punya Pakkung yang luar biasa sayang sama aku...
Aku bisa main sepuasnya, tanpa harus mikir, "besok mau makan apa ya?"
Aku bisa...aku bisa ketawa bebas sebebas-bebasnya...

Jujur, aku seriiiing banget pengen muter waktu, kembali ke masa kecilku...
Aku pengen banget ngerasain lagi, tidur sama Pakkung, makan sama Pakkung, apapun sama Pakkung...
Aku pengen banget ngerasain lagi, saat di mana semua orang ngeliat aku dengan pandangan seneng kayak dulu...

Duh, kok jadi melo gini sih? Hahaha...
Udah ah... Nanti malah banjir lagi...
Aku pamit dulu deh, mau kembali ke kehidupan masa remaja menuju dewasaku ini dulu :)
Bubay!

Postingan populer dari blog ini

[DRABBLE] : DON’T SICK AGAIN, YO… Pagi itu, saat upacara bendera, aku melihatnya yang tiba-tiba berlari. Semua mata menatap dirinya yang memucat. Ya ampun, dia kenapa? Aku pun memutuskan untuk mengikutinya. Dan ternyata, dia berlari ke arah toilet. Toilet cowok.
Sesampai di toilet, aku bias mendengar suara orang muntah, yang kuyakini adalah dirinya. Sesekali terdengar batuk yang keras dan rintihan menahan rasa sakit. Aku harus masuk dan melihatnya. Aku sudah tidak peduli dengan status tempat ini yang bernama ‘toilet cowok’.

[Cerpen] Biakan Aku Pergi

Biakan Aku Pergi
#Ini pengganti yang ‘The Last Valentine’. Kenapa aku ganti? Karna feel cerita yang judulnya itu udah ga ada lagi. udah memudar *cielah bahasa gue—a* Ini aku pake CakShil kok, tenang, masih menuhin request’an Kakak Nia Sumiati tercintah *eh! Dan masih sesuai request’an kok. So, mending lanjut aja yaa... Happy reading, don’t forget to comment and give your thumbs, right!#
“Aku mau kita putus.”ucap Cakka pada Shilla.
“Putus? Kenapa?”tanya Shilla sambil menatap Cakka dalam, berusaha mencari kebohongan di manik mata Cakka, tapi nihil.
“Aku udah ga nyaman sama kamu.”jawab Cakka.
“Gitu?” “Iya.”jawab Cakka –lagi-
“Oke, kita putus.”ujar Shilla lalu beranjak dari kursinya, berniat pergi dari cafe.
Cakka mengusap wajahnya saat punggung Shilla mulai menghilang dari pandangannya. Dadanya terasa terhimpit saat mengatakan kata ‘putus’ tadi. Jujur saja, semuanya yang ia ucapkan tadi adalah bohong belaka. Cakka masih sangat menyayangi Shilla, dan masih nyaman di sebelah Shilla. Tapi C…