Langsung ke konten utama

SAD FRIENDSHIP STORY part 2

Cast: Valerie-Rama
Genre:  Firiendship, Sad
Rate: G

-Rama’s side-
Rama benar-benar kaget saat selesai mengerjakan sketsa barunya dan mendapati seorang gadis berambut cokelat duduk di sebelahnya. Seketika, rasa amarah meluap di hatiya. Dia sudah meminta pada semua orang di kelas untuk tidak menduduki bangku di sebelahnya ini, tapi mengapa gadis ini bisa duduk dengan tenangnya. Dan karena tidak ingin amarah itu semakin menjadi, Rama pun memilih untuk keluar kelas, lagipula materi yang diajarkan Miss Linda itu sudah sangat dia mengerti.

Setelah keluar dari kelas dengan emosi tinggi, Rama memilih duduk di danau belakang sekolah, tempat favoritenya di sekolah. Rama menyenderkan badannya di sebuah pohon besar yang memang selalu menemaninya di sini. Rama memasang kembali headset merahnya lalu mengambil buku sketsanya.


Rama tidak menggambar lagi, namun membuka lembar per lembar di dalamnya. Perlahan namun pasti, emosi yang tadi menguasai Rama berubah menjadi rasa sedih. Buku sketsa itu berisi sketsa wajah bundanya, orang yang selama ini tidak pernah Rama rasakan pelukannya lagi sejak setahun yang lalu.

Bunda Rama memang baru saja meninggal setahun yang lalu karena penyakit kankernya. Dan, sejak saat itulah, Rama memilih menghindar dari dunianya. Dia seakan membuang Rama yang lama. Walaupun, Rama masih tetap pintar dan popular seperti dulu.

“Bunda…”lirih Rama sambil menutup matanya.

---

“Hey? Bangun… Hey?”sebuah suara membuat Rama membuka matanya.

Rama mengernyit saat cahaya matahari langsung menelusup di kedua matanya. Setelah bisa beradaptasi dengan baik, Rama langsung melihat sumber suara yang membangunkannya. Dan, Rama cukup terkejut melihat gadis berambut cokelat yang duduk di sebelahnya tadi.

“Lo!”gumam Rama dengan nafas tertahan karena menahan emosinya.

“Kamu ngapain tidur di sini? Memang tidak takut digigit semut?”ujar gadis itu yang membuat Rama mengernyit.

“Lo bangunin gue cuma gara-gara semut? How dare you!”balas Rama dengan nada lebih keras dari sebelumnya.

Seperti teringat sesuatu, gadis itu langsung terdiam, tapi sedetik kemudian mengulurkan tangannya. Dan itu sukses membuat Rama tercengang. Apa maksud cewek ini, sih?

“Eh, aku Valerie… What’s your name?”tanya gadis yang bernama Valerie itu.

“What?” “Aku mau minta maaf masalah bangku tadi… Aku hanya ingin berteman denganmu, karena aku tadi melihat kamu seperti sendirian. Dan, by the way, aku sukaa gambar sketsamu, itu bagus-bagus…”jawab Valerie.

“Eh, tunggu-tunggu. Lo liat sketsa gue? Lo ngintip sketsa gue? HOW DARE YOU!”bentak Rama.

Valerie tampak terkejut, tapi dia masih tetap tersenyum. “Oh, maaf kalau begitu… Tapi, maukah mulai hari ini kita berteman?”

Rama menggeleng cepat, “Gue gak mau temenan sama lo, dan gue gak suka punya temen.”
Setelah berkata seperti itu, Rama meninggalkan danau itu. Dan, saat sampai di lorong sekolah, Rama baru sadar bahwa sekolah sudah hampir sepi. Sudah pulang sekolah ternyata, batin Rama. Rama melanjutkan langkahnya menuju motornya yang terparkir manis di lapangan parker sekolah.

Tidak butuh waktu lama, motor berwarna merah itu sudah sampai di sebuah rumah bergaya klasik dan berukuran sangat besar. Itu adalah rumah Rama. Rumah lama Rama, tepatnya. Rama memang memilih keluar dari rumah itu sejak beberapa bulan lalu karena ayahnya membawa seorang perempuan yang, katanya, akan menggantikan posisi bundanya. Dan, Rama tidak menyetujui hal itu. Akhirnya, Rama memilih keluar dari rumah dan tinggal di apartemen yang dibelikan oleh Om Irwan, adik bundanya, saat ulang tahun ke-17nya.

Rama memberhentikan motornya tepat di depan pintu gerbangnya. Melihat rumah yang belum banyak berubah ini, memori Rama seakan berlari menuju masa kecilnya. Masa di mana Bunda masih sehat, dan masih bisa bermain dengan Rama. Masa di mana Ayah belum sibuk dengan pekerjaannya dan masih bisa mengajari Rama menaiki sepeda.

Rama menggelengkan kepalanya, mencoba menghapus kenangan-kenangan itu dari kepalanya. Selang beberapa detik, Rama dan juga motornya melesat meninggalkan rumah itu. Rama tidak ingin kembali terlarut dalam memorinya. Bagi Rama, memori itu adalah penyiksa terhebat dalam hidupnya, karena dia tidak akan pernah bisa mengulangnya kembali.
---


BERSAMBUNG…

Postingan populer dari blog ini

[DRABBLE] : DON’T SICK AGAIN, YO… Pagi itu, saat upacara bendera, aku melihatnya yang tiba-tiba berlari. Semua mata menatap dirinya yang memucat. Ya ampun, dia kenapa? Aku pun memutuskan untuk mengikutinya. Dan ternyata, dia berlari ke arah toilet. Toilet cowok.
Sesampai di toilet, aku bias mendengar suara orang muntah, yang kuyakini adalah dirinya. Sesekali terdengar batuk yang keras dan rintihan menahan rasa sakit. Aku harus masuk dan melihatnya. Aku sudah tidak peduli dengan status tempat ini yang bernama ‘toilet cowok’.

[Cerpen] Biakan Aku Pergi

Biakan Aku Pergi
#Ini pengganti yang ‘The Last Valentine’. Kenapa aku ganti? Karna feel cerita yang judulnya itu udah ga ada lagi. udah memudar *cielah bahasa gue—a* Ini aku pake CakShil kok, tenang, masih menuhin request’an Kakak Nia Sumiati tercintah *eh! Dan masih sesuai request’an kok. So, mending lanjut aja yaa... Happy reading, don’t forget to comment and give your thumbs, right!#
“Aku mau kita putus.”ucap Cakka pada Shilla.
“Putus? Kenapa?”tanya Shilla sambil menatap Cakka dalam, berusaha mencari kebohongan di manik mata Cakka, tapi nihil.
“Aku udah ga nyaman sama kamu.”jawab Cakka.
“Gitu?” “Iya.”jawab Cakka –lagi-
“Oke, kita putus.”ujar Shilla lalu beranjak dari kursinya, berniat pergi dari cafe.
Cakka mengusap wajahnya saat punggung Shilla mulai menghilang dari pandangannya. Dadanya terasa terhimpit saat mengatakan kata ‘putus’ tadi. Jujur saja, semuanya yang ia ucapkan tadi adalah bohong belaka. Cakka masih sangat menyayangi Shilla, dan masih nyaman di sebelah Shilla. Tapi C…