Langsung ke konten utama

Kampusku Sayang, Kampusku Tercinta....

Aku selama ini berusaha buat diem, gak posting sana sini kayak biasanya. Padahal biasanya aku pasti langsung ngamuk di sosmed kalo ada yang gak cocok sama aku. Tapi aku nyoba terus nahan diri buat njaga nama baik kampusku sendiri. Gimana-gimana nanti kalo aku lulus aku pasti bawa nama dia. Kalo citranya buruk, bakalan mempersulit aku maupun temen-temen lain buat lanjut kerja atau lanjut kuliah. Tapi, setelah lama-lama diem gini, aku ngerasa masalahnya bukannya nemu titik pusatnya, justru makin bulet.
Sebenernya, setelah putusan sidang terakhir, aku berpikir masalah udah selesai, tapi ternyata masih berlanjut sampai Kemenristekdikti mengeluarkan keputusan gak terduga. Yang dibuat dalam bentuk surat juga ditulis di situs resmi mereka. Yaitu, kampusku tercinta berada di dalam status pembinaan aka nonaktif aka gak jelas.
Kenapa gak jelas? Karena, saat kampusmu ada di status pembinaan, kampusmu gak akan bisa terima mahasiswa baru, ijazah gak sah secara nasional, nilai-nilai yang kamu usahain selama enam bulan aka satu semester gak akan masuk ke data induk dikti, gak bisa terima beasiswa, daaaan banyak lagi. Gak jelas kan? JADI KITA KULIAH UNTUK APA?
Oya, aku ceritain masalah kampusku dulu.
Jadi gini, kampusku sekarang punya dua yayasan yang menaungi. Atau istilah gampangnya, kampusku terbagi jadi dua kubu. Baik dari yayasan, staf, dosen, bahkan mahasiswa. Yang menyebabkan apa? Ya itu tadi, adanya dua yayasan yang mengakui memiliki surat ijin resmi memiliki kampusku tercinta. Mereka berebut sampe maju pengadilan beberapa kali, Dikti udah memperingatkan kalo gak selesai-selesai ijazah kami bisa gak sah. Sebagai mahasiswa kami berusaha proaktif dengan melakukan demo berulang kali untuk menuntut kejelasan kampus, meskipun yaaa kami tau, demo itu memiliki dampak negatif bagi sekitar juga bagi citra kampus sendiri. Tapi, kami harus menuntut kejelasan status kami dulu dong, baru memperbaiki citra yang sempet rusak, biar tahu kalo yang kita lakukan ini gak salah tujuan.
Setelah sidang ke berapa gitu (aku lupa), aku mikir kasus sudah selesai, karena kampus sudah berjalan sebagaimana mestinya. Tapi ternyata masih berlanjut. Suasana kampus ternyata gak berjalan sebagaimana mestinya yang kayak aku kira. Justru lebih parah karena semua elemen kampus terbagi menjadi dua kubu. Eeeh, belum selesai dua kubu ini, muncul kubu baru.
Kubu yang baru ini sebenernya kubu lama, maksudnya ternyata dia itu yayasan yang punya surat ijin pembangunan kampusku.
Setelah sekian lama entah ngapain, Dikti ngajak konsolidasi, supaya status kampus segera dipulihkan dan mahasiswa dapat kuliah dengan tenang dan lulus dengan bangga. Tapi nyatanya masih adaaaaa aja yang kejadian.
Yaitu salah satu pihak (pihak kubu baru). Dia itu diajak rapat gak mau. Di berita yang paling baru aku baca, si beliau ini gak hadir di konsolidasi terakhir dari Dikti, sampe akhirnya keputusan diserahkan ke Dikti. Yaaaa semoga Dikti bisa ngambil keputusan yang gak akan ngerugiin siapapun, terutama MAHASISWA. Tapi ada yang bikin mangkel. Masa si kubu baru bilang kalo status yang dikasih Menteri Dikti itu cuma online, dengan kata lain, beliau bilang kalo status itu gak penting gara-gara online.
Pertanyaanku KALO GAK PENTING, NGAPAIN PAK MENTERI KEMENRISTEK DIKTI YANG SUPER SIBUK ITU SAMPE TURUN TANGAN IKUT KONSOLIDASI COBA? Ngakak... Kalo standar penting gak penting itu cuma karena itu online apa gak, berarti akta yang Anda punya, yang Anda buat dengan online itu, juga GAK PENTING, dong Pakbos?
Yaaaah...  Harapanku sekarang buat kampusku tercinta ini, gek ndang mari masalahe, kasian orang tua kami yang udah mikirin bayar kuliah, sekarang ditambah beban mikir lagi gimana kita kerja kalo ijazah aja gak diakui pemerintah... 

Postingan populer dari blog ini

[DRABBLE] : DON’T SICK AGAIN, YO… Pagi itu, saat upacara bendera, aku melihatnya yang tiba-tiba berlari. Semua mata menatap dirinya yang memucat. Ya ampun, dia kenapa? Aku pun memutuskan untuk mengikutinya. Dan ternyata, dia berlari ke arah toilet. Toilet cowok.
Sesampai di toilet, aku bias mendengar suara orang muntah, yang kuyakini adalah dirinya. Sesekali terdengar batuk yang keras dan rintihan menahan rasa sakit. Aku harus masuk dan melihatnya. Aku sudah tidak peduli dengan status tempat ini yang bernama ‘toilet cowok’.

[Cerpen] Biakan Aku Pergi

Biakan Aku Pergi
#Ini pengganti yang ‘The Last Valentine’. Kenapa aku ganti? Karna feel cerita yang judulnya itu udah ga ada lagi. udah memudar *cielah bahasa gue—a* Ini aku pake CakShil kok, tenang, masih menuhin request’an Kakak Nia Sumiati tercintah *eh! Dan masih sesuai request’an kok. So, mending lanjut aja yaa... Happy reading, don’t forget to comment and give your thumbs, right!#
“Aku mau kita putus.”ucap Cakka pada Shilla.
“Putus? Kenapa?”tanya Shilla sambil menatap Cakka dalam, berusaha mencari kebohongan di manik mata Cakka, tapi nihil.
“Aku udah ga nyaman sama kamu.”jawab Cakka.
“Gitu?” “Iya.”jawab Cakka –lagi-
“Oke, kita putus.”ujar Shilla lalu beranjak dari kursinya, berniat pergi dari cafe.
Cakka mengusap wajahnya saat punggung Shilla mulai menghilang dari pandangannya. Dadanya terasa terhimpit saat mengatakan kata ‘putus’ tadi. Jujur saja, semuanya yang ia ucapkan tadi adalah bohong belaka. Cakka masih sangat menyayangi Shilla, dan masih nyaman di sebelah Shilla. Tapi C…